Komunitas & Sosial  30 November 2020, 10:35

Arti Sesajen Bagi Masyarakat Bali

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

Arti Sesajen Bagi Masyarakat Bali

Hi Lokalovers, jika kamu berkunjung ke Bali pasti sering melihat ada makanan yang dijadikan sebagai sesajen hampir di setiap tempat. Umumnya, sesajen itu terbagi dalam bunga, nasi, biskuit, permen, dan sebagainya. Banyak yang memandang jika kamu menginjak atau menyenggol sesajen, kamu akan alami insiden yang tidak enak. 
 

Sesajen atau sajen, atau ada juga yang menyebutnya sesaji, adalah sejenis makanan yang dipersembahkan kepada dewa atau arwah nenek moyang atau juga kepada makhluk ghaib penguasa suatu tempat. Sesajen ini biasanya dimunculkan dalam ritual upacara adat di masyarakat yang memiliki kepercayaan tertentu.
 

Masyarakat yang melakukan ritual seperti itu meyakini, bahwa makanan sesajen yang mereka berikan merupakan bentuk rasa syukur dan ungkapan terima kasih atau bisa juga sebagai sesembahan untuk memohon agar dijauhkan dari bahaya yang biasanya ditujukkan kepada makhluk ghaib penguasa tempat tersebut. Dan masyarakat juga meyakini makanan sesajen tersebut akan dimakan oleh makhluk ghaib tersebut.

 


Arti sesajen di Bali

Warga Bali yang sebagian besar beragama Hindu mengawali hari dengan doa yang disertai sesajen bunga untuk dipersembahkan pada Dewa-Dewi Bali. Sesajen mempunyai nilai yang sakral buat masyarakat Bali. Mereka yakin dengan persembahkan sesajen, mereka akan memperoleh peruntungan, sekaligus juga menampik kemalangan.
 

Tidak hanya untuk memperoleh peruntungan, pemberian sesajen adalah langkah masyarakat Bali untuk mengucapkan syukur pada beberapa Dewa yang sudah memberi kesejahteraan buat kehidupan mereka.
 

Adat ini telah dikerjakan lama, dapat disebutkan telah datang dari nenek moyang kita yang mempunyai pertimbangan religius. Ada lambang atau siloka di pemberian sesajen, yakni sesajen simpel dipersembahkan tiap hari. Sedang, sesajen spesial disiapkan untuk acara-acara keagamaan khusus. Di pura-pura, sesajen untuk Dewa serta roh beberapa leluhur ditempatkan di altar yang tinggi, sedang sesajen untuk roh-roh jahat ditempatkan dibagian fundamen.
 

Bentuk sesajen yang sering kita jumpai di Bali ialah bunga. Bunga berarti filosofis, supaya kita serta keluarga selalu memperoleh “keharuman” dari beberapa leluhur. Keharuman adalah majas dari karunia yang banyak dari beberapa leluhur serta bisa mengalir pada keturunan.

 

Dapat ditempatkan di mana saja

Makanan yang umumnya jadikan sesajen ialah makanan yang sudah dibuat atau makanan yang akan disajikan untuk keluarga di dalam rumah. Masyarakat Bali yakin jika di tiap tempat ada roh yang menanti, jadi sesajen dapat ditempatkan dimana saja. Sering, sesajen ditempatkan di jalan, trotoar, atau persimpangan jalan. Arah intinya pasti saja agar mereka dihindarkan dari beberapa masalah di jalan. Serta seringkali sesajen ditempatkan di kendaraan bermotor agar memberikan keselamatan waktu berkendara.
 

Dalam tempat yang jadikan jadi kebun cari nafkah seringkali ditempatkan sesajen. Contohnya di toko, dengan arah supaya roh atau Dewa membuat perlindungan toko itu dari masalah serta datangkan banyak rejeki untuk toko itu. Sedang, sesajen yang di taruh di muka rumah jadi penghormatan pada roh penunggu rumah supaya rumah terlepas dari musibah.

 

Jangan secara sengaja merusak sesajen ya

Sering kali kita mendengar & memperingatkan rekan-rekan yang pergi ke Bali agar tidak menginjak atau menyenggol sesajen. Katanya sih kalau diinjak dapat membuat kita alami nahas atau insiden yang tidak enak. Sebenarnya, tidak menginjak atau menyenggol sesajen ialah bentuk penghormatan kita pada adat atau keyakinan masyarakat Bali, bukan agar kita tidak terkena nahas. Di luar mitos mistisnya, sesajen ialah cara masyarakat Bali yang mayoritas memeluk agama Hindu untuk mengucap syukur pada penciptanya.
 

Mengutip CNNIndonesia.com Sesajen yang sering ditemui di depan rumah atau di tepi jalan jalan disebut canang sari. Ukurannya paling kecil di antara jenis sesajen lainnya yang dibuat pemeluk Hindu di Bali.
 

Menempatkan canang sari setiap pagi bermakna ucapan terima kasih mereka kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Persembahan ini juga berarti berserah diri atas materi dan waktu kepada Yang Maha Kuasa. Canang sari terdiri dari daun janur untuk wadah segi empat sebagai simbol kekuatan Ardha Candra atau bulan, dan porosan (isian) berupa pinang, sirih, daun janur, serta kapur sebagai simbol Tridharma Hindu Bali, yakni Dewa Brahma, Dewa Wisnu, serta Dewa Siwa.
 

Kemudian sesajen canang sari juga diisi dengan irisan tebu, pisang, dan kue-kue khas Bali. Bunga yang menjadi bahan canang sari harus segar dan harum, sebagai simbol ketulusan dan kesucian. Tak ketinggalan bunga yang dibentuk rampai, sebagai simbol kebijaksanaan.
 

Pemeluk agama Hindu membuat dan menempatkan canang sari setiap hari. Kalau ditempatkan di pinggir jalan, berarti yang meletakkan berharap orang-orang yang melintas diberikan keselamatan dalam hidupnya.
 

Banyak mitos yang beredar soal menginjak sesajen di Bali bakal mendatangkan celaka. Yang pasti dan perlu diingat, sesajen di Bali merupakan bentuk doa umat Hindu kepada Tuhannya, sehingga kita jangan sampai dengan sengaja merusaknya ya!

Baca Artikel Lain

Lukisan Gua Tertua di Dunia Ada di Indonesia
Menlu Retno Marsudi Jadi Ketua Kerja Sama Vaksin COVID-19 COVAX
Presiden Jokowi Resmi Divaksin Covid-19
Kapal Bantu Rumah Sakit KRI Dokter Wahidin Siap Berlayar Melayani Pasien
Pemerintah menerapkan PSBB Jawa-Bali mulai 11-25 Januari 2021

Komunitas & Sosial  30 November 2020, 10:35

Arti Sesajen Bagi Masyarakat Bali

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

Arti Sesajen Bagi Masyarakat Bali

Hi Lokalovers, jika kamu berkunjung ke Bali pasti sering melihat ada makanan yang dijadikan sebagai sesajen hampir di setiap tempat. Umumnya, sesajen itu terbagi dalam bunga, nasi, biskuit, permen, dan sebagainya. Banyak yang memandang jika kamu menginjak atau menyenggol sesajen, kamu akan alami insiden yang tidak enak. 
 

Sesajen atau sajen, atau ada juga yang menyebutnya sesaji, adalah sejenis makanan yang dipersembahkan kepada dewa atau arwah nenek moyang atau juga kepada makhluk ghaib penguasa suatu tempat. Sesajen ini biasanya dimunculkan dalam ritual upacara adat di masyarakat yang memiliki kepercayaan tertentu.
 

Masyarakat yang melakukan ritual seperti itu meyakini, bahwa makanan sesajen yang mereka berikan merupakan bentuk rasa syukur dan ungkapan terima kasih atau bisa juga sebagai sesembahan untuk memohon agar dijauhkan dari bahaya yang biasanya ditujukkan kepada makhluk ghaib penguasa tempat tersebut. Dan masyarakat juga meyakini makanan sesajen tersebut akan dimakan oleh makhluk ghaib tersebut.

 


Arti sesajen di Bali

Warga Bali yang sebagian besar beragama Hindu mengawali hari dengan doa yang disertai sesajen bunga untuk dipersembahkan pada Dewa-Dewi Bali. Sesajen mempunyai nilai yang sakral buat masyarakat Bali. Mereka yakin dengan persembahkan sesajen, mereka akan memperoleh peruntungan, sekaligus juga menampik kemalangan.
 

Tidak hanya untuk memperoleh peruntungan, pemberian sesajen adalah langkah masyarakat Bali untuk mengucapkan syukur pada beberapa Dewa yang sudah memberi kesejahteraan buat kehidupan mereka.
 

Adat ini telah dikerjakan lama, dapat disebutkan telah datang dari nenek moyang kita yang mempunyai pertimbangan religius. Ada lambang atau siloka di pemberian sesajen, yakni sesajen simpel dipersembahkan tiap hari. Sedang, sesajen spesial disiapkan untuk acara-acara keagamaan khusus. Di pura-pura, sesajen untuk Dewa serta roh beberapa leluhur ditempatkan di altar yang tinggi, sedang sesajen untuk roh-roh jahat ditempatkan dibagian fundamen.
 

Bentuk sesajen yang sering kita jumpai di Bali ialah bunga. Bunga berarti filosofis, supaya kita serta keluarga selalu memperoleh “keharuman” dari beberapa leluhur. Keharuman adalah majas dari karunia yang banyak dari beberapa leluhur serta bisa mengalir pada keturunan.

 

Dapat ditempatkan di mana saja

Makanan yang umumnya jadikan sesajen ialah makanan yang sudah dibuat atau makanan yang akan disajikan untuk keluarga di dalam rumah. Masyarakat Bali yakin jika di tiap tempat ada roh yang menanti, jadi sesajen dapat ditempatkan dimana saja. Sering, sesajen ditempatkan di jalan, trotoar, atau persimpangan jalan. Arah intinya pasti saja agar mereka dihindarkan dari beberapa masalah di jalan. Serta seringkali sesajen ditempatkan di kendaraan bermotor agar memberikan keselamatan waktu berkendara.
 

Dalam tempat yang jadikan jadi kebun cari nafkah seringkali ditempatkan sesajen. Contohnya di toko, dengan arah supaya roh atau Dewa membuat perlindungan toko itu dari masalah serta datangkan banyak rejeki untuk toko itu. Sedang, sesajen yang di taruh di muka rumah jadi penghormatan pada roh penunggu rumah supaya rumah terlepas dari musibah.

 

Jangan secara sengaja merusak sesajen ya

Sering kali kita mendengar & memperingatkan rekan-rekan yang pergi ke Bali agar tidak menginjak atau menyenggol sesajen. Katanya sih kalau diinjak dapat membuat kita alami nahas atau insiden yang tidak enak. Sebenarnya, tidak menginjak atau menyenggol sesajen ialah bentuk penghormatan kita pada adat atau keyakinan masyarakat Bali, bukan agar kita tidak terkena nahas. Di luar mitos mistisnya, sesajen ialah cara masyarakat Bali yang mayoritas memeluk agama Hindu untuk mengucap syukur pada penciptanya.
 

Mengutip CNNIndonesia.com Sesajen yang sering ditemui di depan rumah atau di tepi jalan jalan disebut canang sari. Ukurannya paling kecil di antara jenis sesajen lainnya yang dibuat pemeluk Hindu di Bali.
 

Menempatkan canang sari setiap pagi bermakna ucapan terima kasih mereka kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Persembahan ini juga berarti berserah diri atas materi dan waktu kepada Yang Maha Kuasa. Canang sari terdiri dari daun janur untuk wadah segi empat sebagai simbol kekuatan Ardha Candra atau bulan, dan porosan (isian) berupa pinang, sirih, daun janur, serta kapur sebagai simbol Tridharma Hindu Bali, yakni Dewa Brahma, Dewa Wisnu, serta Dewa Siwa.
 

Kemudian sesajen canang sari juga diisi dengan irisan tebu, pisang, dan kue-kue khas Bali. Bunga yang menjadi bahan canang sari harus segar dan harum, sebagai simbol ketulusan dan kesucian. Tak ketinggalan bunga yang dibentuk rampai, sebagai simbol kebijaksanaan.
 

Pemeluk agama Hindu membuat dan menempatkan canang sari setiap hari. Kalau ditempatkan di pinggir jalan, berarti yang meletakkan berharap orang-orang yang melintas diberikan keselamatan dalam hidupnya.
 

Banyak mitos yang beredar soal menginjak sesajen di Bali bakal mendatangkan celaka. Yang pasti dan perlu diingat, sesajen di Bali merupakan bentuk doa umat Hindu kepada Tuhannya, sehingga kita jangan sampai dengan sengaja merusaknya ya!

Baca Artikel Lain

62 Pride  15 Januari 2021

Lukisan Gua Tertua di Dunia Ada di Indonesia

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka



Kabar Terkini  13 Januari 2021

Presiden Jokowi Resmi Divaksin Covid-19

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka




Artikel Terbaru