Komunitas & Sosial  25 Februari 2021, 09:22

Mbah Topo, Pejuang Literasi Becak Pustaka

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

Mbah Topo, Pejuang Literasi Becak Pustaka

Siapa saja boleh membaca dan meminjam buku tidak ada batasan waktu dan gratis tidak dipungut biaya.
 

Sutopo atau yang biasa disapa Mbah Topo sudah berusia 74 tahun masih enerjik dan bersemangat setiap hari mangkal di depan Bank BPD di utara Kantor Samsat Kota Jogja. Dengan becak yang disulap sedemikian rupa menjadi sebuah perpustakaan keliling, di becaknya terdapat bermacam-macam buku pendidikan, buku anak-anak, buku resep masakan bahkan majalah mode. Menurut beliau, buku adalah guru yang paling sabar dan memberi banyak pengetahuan jika kita mau membacanya. Keprihatinanya saat ini adalah rendahnya minat baca masyarakat bahkan anak-anak yang lebih senang bermain dengan handphone.
 

Sejak tahun 2004 beliau memulai Becak Pustaka setelah pensiun dari pekerjaannya. Karena menurut beliau setelah masa pensiunnya ingin tetap melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi orang banyak, dengan kegemarannya yaitu membaca, muncul ide untuk membuat Becak Pustaka tersebut dengan becak yg dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sembari menunggu penumpang bisa sambil membaca. Selain itu, penumpang juga bisa membaca buku yang ada. Menurut beliau, mengayuh becak itu sambil berolah raga sehingga fisiknya tetap sehat sedangkan membaca untuk tetap menambah pengetahuan dan melatih otak agar tidak cepat pikun.

Koleksi buku Sutopo kini mencapai sekitar 100 dan topiknya beragam, mulai dari cerita anak, sejarah, pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, hingga kisah orang-orang sukses. (FURQON ULYA HIMAWAN/ BBC Indonesia)


Sutopo sebenarnya seorang pensiunan PNS di Kodim 0734 Yogyakarta. Ketika pensiun pada 2003, Sutopo memutuskan menarik becak karena tidak ingin berhenti melakukan aktivitas. "Saya tidak ingin pensiun, saya ingin terus bergerak agar tetap sehat," kata lelaki yang pernah kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, jurusan reklame. Di sela-sela kegiatannya sebagai penarik becak kayuh, Sutopo selalu membaca buku yang merupakan hobinya sejak kanak-kanak.
 

Kebiasaannya itu ternyata diperhatikan seorang penumpang langganan. "Keesokan harinya dia menyumbang buku sebanyak 40 eksemplar," kenang Sutopo. Oleh Sutopo, buku-buku itu dibawa ke rumah. Dia kemudian membuat rak buku sederhana. Bentuknya dia sesuaikan dengan ruangan yang ada di sisi sandaran belakang dan kanan kiri becak. Momen pada 2017 itu adalah awal dari becak pustaka keliling.
 


Sutopo biasa menunggu penumpang atau peminjam buku dari becaknya yang diparkir di Jalan Tentara Pelajar, Kota Yogyakarta. 
(FURQON ULYA HIMAWAN/ BBC Indonesia)

 

Koleksi buku Sutopo kini mencapai sekitar 100 dan topiknya beragam, mulai dari cerita anak, sejarah, pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, hingga kisah orang-orang sukses. Buku-buku itu dia dapatkan dari sumbangan para penumpang dan sejumlah penerbit buku. Bahkan, menurut Sutopo, ada pihak penerbit yang membawanya ke toko buku dan mempersilakan dia untuk mengambil 40 buku secara cuma-cuma.

 

Aneka buku koleksi Sutopo menarik minat banyak orang, dari mahasiswa hingga pemulung yang merasa minder masuk perpustakaan yang bersih dan megah. Hal itu semakin menguatkan tekadnya untuk meminjamkan buku. "Pembaca buku saya bermacam-macam. Mulai dari mahasiswa, pemulung, pedagang pasar, penarik becak. Mereka minat bacanya baik. Tapi buku mahal dan orang kecil masuk perpustakaan gedung megah, sungkan. Makanya saya buatkan becak pustaka ini, saya datangi mereka. Mari membaca, gratis," kata Sutopo.

 

Pada masa pandemi Covid-19, Sutopo mengaku sepi penumpang maupun peminjam buku. Sebelum pandemi, saban hari Sutopo paling tidak bisa mengantongi uang Rp50.000 dari hasil jasa mengayuh becak. "Sekarang (masa pandemi) paling Rp10.0000-Rp20.000. Kadang malah nol, tidak dapat penumpang," kata Sutopo yang sudah sejak 2004 menarik becak. Jumlah orang yang mendatangi becaknya untuk meminjam buku pun berkurang. "(Peminjam buku) menurun. Kalau dibuat rata-rata setiap harinya satu-dua orang," kata Sutopo.

 

Meski pendapatannya turun dan pulang tanpa penghasilan, serta jarang lagi ada orang yang meminjam buku, Sutopo masih tetap setia menawarkan jasanya. "Kekosongan dan kesepian ini saya justru gunakan untuk membaca. Sehingga waktu seperti ini saya lalui dengan gembira dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa," kata ayah tiga anak dan kakek enam cucu ini.
 

Sutopo berharap, generasi muda tidak meninggalkan membaca buku karena buku adalah jendela dunia. "Buku bagus untuk perkembangan pendidikan masyarakat agar menjadi manusia yang lebih baik," ujarnya.

 

Semoga Mbah Topo senantiasa diberikan kesehatan sehingga bisa terus memberi manfaat bagi orang banyak dan Becak Pustaka semakin diminati oleh masyarakat!

Baca Artikel Lain

Waspada Siklon Tropis Surigae! BMKG Prediksi Berkembang Jadi Topan
Indonesia Raup Rp405 juta dari Pameran Makanan-Minuman di China
Kemendikbud: Pancasila dan Bahasa Indonesia Masih Mata Kuliah Wajib
Tampil Cantik dengan Aksesoris Unik di KU KA
Bangga Buatan Indonesia Gerakkan Ekonomi RI

Komunitas & Sosial  25 Februari 2021, 09:22

Mbah Topo, Pejuang Literasi Becak Pustaka

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

Mbah Topo, Pejuang Literasi Becak Pustaka

Siapa saja boleh membaca dan meminjam buku tidak ada batasan waktu dan gratis tidak dipungut biaya.
 

Sutopo atau yang biasa disapa Mbah Topo sudah berusia 74 tahun masih enerjik dan bersemangat setiap hari mangkal di depan Bank BPD di utara Kantor Samsat Kota Jogja. Dengan becak yang disulap sedemikian rupa menjadi sebuah perpustakaan keliling, di becaknya terdapat bermacam-macam buku pendidikan, buku anak-anak, buku resep masakan bahkan majalah mode. Menurut beliau, buku adalah guru yang paling sabar dan memberi banyak pengetahuan jika kita mau membacanya. Keprihatinanya saat ini adalah rendahnya minat baca masyarakat bahkan anak-anak yang lebih senang bermain dengan handphone.
 

Sejak tahun 2004 beliau memulai Becak Pustaka setelah pensiun dari pekerjaannya. Karena menurut beliau setelah masa pensiunnya ingin tetap melakukan kegiatan yang bermanfaat bagi orang banyak, dengan kegemarannya yaitu membaca, muncul ide untuk membuat Becak Pustaka tersebut dengan becak yg dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sembari menunggu penumpang bisa sambil membaca. Selain itu, penumpang juga bisa membaca buku yang ada. Menurut beliau, mengayuh becak itu sambil berolah raga sehingga fisiknya tetap sehat sedangkan membaca untuk tetap menambah pengetahuan dan melatih otak agar tidak cepat pikun.

Koleksi buku Sutopo kini mencapai sekitar 100 dan topiknya beragam, mulai dari cerita anak, sejarah, pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, hingga kisah orang-orang sukses. (FURQON ULYA HIMAWAN/ BBC Indonesia)


Sutopo sebenarnya seorang pensiunan PNS di Kodim 0734 Yogyakarta. Ketika pensiun pada 2003, Sutopo memutuskan menarik becak karena tidak ingin berhenti melakukan aktivitas. "Saya tidak ingin pensiun, saya ingin terus bergerak agar tetap sehat," kata lelaki yang pernah kuliah di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta, jurusan reklame. Di sela-sela kegiatannya sebagai penarik becak kayuh, Sutopo selalu membaca buku yang merupakan hobinya sejak kanak-kanak.
 

Kebiasaannya itu ternyata diperhatikan seorang penumpang langganan. "Keesokan harinya dia menyumbang buku sebanyak 40 eksemplar," kenang Sutopo. Oleh Sutopo, buku-buku itu dibawa ke rumah. Dia kemudian membuat rak buku sederhana. Bentuknya dia sesuaikan dengan ruangan yang ada di sisi sandaran belakang dan kanan kiri becak. Momen pada 2017 itu adalah awal dari becak pustaka keliling.
 


Sutopo biasa menunggu penumpang atau peminjam buku dari becaknya yang diparkir di Jalan Tentara Pelajar, Kota Yogyakarta. 
(FURQON ULYA HIMAWAN/ BBC Indonesia)

 

Koleksi buku Sutopo kini mencapai sekitar 100 dan topiknya beragam, mulai dari cerita anak, sejarah, pendidikan, ekonomi, sosial-budaya, hingga kisah orang-orang sukses. Buku-buku itu dia dapatkan dari sumbangan para penumpang dan sejumlah penerbit buku. Bahkan, menurut Sutopo, ada pihak penerbit yang membawanya ke toko buku dan mempersilakan dia untuk mengambil 40 buku secara cuma-cuma.

 

Aneka buku koleksi Sutopo menarik minat banyak orang, dari mahasiswa hingga pemulung yang merasa minder masuk perpustakaan yang bersih dan megah. Hal itu semakin menguatkan tekadnya untuk meminjamkan buku. "Pembaca buku saya bermacam-macam. Mulai dari mahasiswa, pemulung, pedagang pasar, penarik becak. Mereka minat bacanya baik. Tapi buku mahal dan orang kecil masuk perpustakaan gedung megah, sungkan. Makanya saya buatkan becak pustaka ini, saya datangi mereka. Mari membaca, gratis," kata Sutopo.

 

Pada masa pandemi Covid-19, Sutopo mengaku sepi penumpang maupun peminjam buku. Sebelum pandemi, saban hari Sutopo paling tidak bisa mengantongi uang Rp50.000 dari hasil jasa mengayuh becak. "Sekarang (masa pandemi) paling Rp10.0000-Rp20.000. Kadang malah nol, tidak dapat penumpang," kata Sutopo yang sudah sejak 2004 menarik becak. Jumlah orang yang mendatangi becaknya untuk meminjam buku pun berkurang. "(Peminjam buku) menurun. Kalau dibuat rata-rata setiap harinya satu-dua orang," kata Sutopo.

 

Meski pendapatannya turun dan pulang tanpa penghasilan, serta jarang lagi ada orang yang meminjam buku, Sutopo masih tetap setia menawarkan jasanya. "Kekosongan dan kesepian ini saya justru gunakan untuk membaca. Sehingga waktu seperti ini saya lalui dengan gembira dan pasrah kepada Yang Maha Kuasa," kata ayah tiga anak dan kakek enam cucu ini.
 

Sutopo berharap, generasi muda tidak meninggalkan membaca buku karena buku adalah jendela dunia. "Buku bagus untuk perkembangan pendidikan masyarakat agar menjadi manusia yang lebih baik," ujarnya.

 

Semoga Mbah Topo senantiasa diberikan kesehatan sehingga bisa terus memberi manfaat bagi orang banyak dan Becak Pustaka semakin diminati oleh masyarakat!

Baca Artikel Lain




Fesyen & Kecantikan  14 April 2021

Tampil Cantik dengan Aksesoris Unik di KU KA

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka


Bisnis Lokal  13 April 2021

Bangga Buatan Indonesia Gerakkan Ekonomi RI

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka


Artikel Terbaru