62 Pride  25 Januari 2021, 08:31

Perdagangan Indonesia Rekor Surplus Tertinggi Sejak 2011

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

Perdagangan Indonesia Rekor Surplus Tertinggi Sejak 2011

Warga bangsa ini patut bersyukur atas kinerja perdagangan nasional pada tahun 2020. Di bawah tekanan pandemi Covid-19, kinerja perdagangan tetap mencatat surplus USD21,74 miliar. 
 

Yang membanggakan lagi, angka surplus itu tercatat sebagai yang tertinggi sejak 2011. Ketika itu, surplusnya sempat menyentuh hingga USD26,06 miliar. Hasil surplus 2020 itu sudah diperkirakan jauh hari sebelumnya.
 

Pencapaian itu terkonfirmasi dari hasil laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Jumat (15/1/2021). Lembaga itu merilis angka ekspor dan impor sepanjang 2020. Secara kumulatif, total nilai ekspor tercatat mencapai USD163,31 miliar. Dan impor, sebesar US$141,56 miliar, surplus USD21,74 miliar. Berkaitan dengan pencapaian surplus tersebut, penyebabnya adalah neraca impor yang mengalami koreksi cukup dalam. Pada saat yang bersamaan, ekspor tidak mengalami tekanan yang begitu berat.
 

Tak dipungkiri, Covid-19 telah memukul ekonomi di negara mana pun. Termasuk Indonesia. Dalam kondisi tersebut, terjadi tekanan terhadap konsumsi di negara terkait. Itu membuat permintaan produk dari negara lain berkurang. Namun warga bangsa ini patut bersyukur, tekanan terhadap ekspor Indonesia tidak begitu besar, yakni hanya terjadi penurunan sebesar 2,61 persen secara tahunan (year of year). Adapun, impor mengalami koreksi hingga 17,34 persen.
 

Sementara itu, kinerja perdagangan nasional bulanan tercatat positif. Selama Desember 2020, terjadi surplus sebesar USD2,1 miliar. Angka ini tercetak dari capaian ekspor yang sebesar USD16,54 miliar dan impor USD14,44 miliar. Kinerja ekspor pada Desember mengalami kenaikan yang cukup besar. Bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, ekspor tercatat naik 8,39 persen. Adapun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, terjadi kenaikan 14,63 persen.
 

Menurut laporan BPS, peningkatan nilai ekspor itu dipengaruhi kenaikan ekspor nonmigas yang hampir mencapai 17 persen. “Perkembangan ekspor bulanan yang positif tersebut diharapkan terus berlanjut pada bulan-bulan mendatang, sejalan dengan geliat manufaktur dan aktivitas produksi yang mulai terjadi beberapa waktu terakhir,” ujar Kepala BPS Suhariyanto.

 

Sudah Diprediksi

Atas kinerja ekspor impor seperti yang dilaporkan BPS, Mendag Muhammad Lutfi pun sudah memprediksi situasi itu. Mendag mengakui bahwa kinerja ekspor impor akan mengalami koreksi yang tidak signifikan.
 

“Karena tidak signifikan, kita melihat basis yang sudah rendah itu, kita akan mengalami perbaikan yang signifikan di 2021, terutama untuk ekspor dan impor," ujar Lutfi, dalam konferensi pers, Senin (11/1/2021).
 

Meski akan tumbuh positif, Lutfi juga berpendapat kinerja ekspor dan impor akan tergantung pada distribusi vaksinasi Covid-19, baik di Indonesia dan di negara lainnya. Lutfi mengatakan pula, ekonomi akan menggeliat kembali begitu vaksinasi Covid-19 dilakukan. Wajar saja Mendag Muhammad Lutfi berpendapat demikian. Tentu dia memiliki dasar yang kuat sehingga prediksinya tidak melesat dari laporan BPS. Apalagi, salah satu indikasinya berupa perbaikan kinerja manufaktur yang terekam melalui data Purchasing Managers’ Indeks (PMI) yang dirilis HIS Markit.
 

Selama beberapa bulan terakhir ini, indeks manufaktur tercatat terus meningkat, dan pada akhir bulan lalu telah berhasil menembus level 51,3. Angka di atas 50 mencerminkan adanya ekspansi. Memupuk optimisme yang tinggi, patut terus dipompa. Namun, bangsa ini tetap harus waspada. Pasalnya, pandemi Covid-19 seperti belum berujung.
 

Angka kasus positif terus mengalami kenaikan. Jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 bertambah 9.086 pada Senin (18/1/2021). Total positif menjadi 917.015, sembuh 745.935, dan korban meninggal mencapai 26.282 orang. Situasi itu tentu mengkhawatirkan. Pada Jumat (15/1/2021), kasus baru di tanah air bahkan kembali memecahkan rekor, yakni 12.818 kasus. Kenaikan jumlah kasus yang tinggi tersebut bisa terjadi karena jumlah spesimen yang diuji sangat banyak, yakni nyaris dua kali lipat dari target WHO yang di atas 38.500 tes per hari. Tercatat ada 72.957 spesimen yang diuji.
 

Di tengah kondisi tersebut, harapan besar terus digadang. Pemulihan ekonomi terus bergerak positif, aktivitas ekspor impor di dalam negeri berada dalam tren yang terus meningkat, didukung pemulihan permintaan global dan kenaikan harga sejumlah komoditas seperti  minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Baca Artikel Lain

3 Bandara Indonesia Dinobatkan Paling Bersih se-Asia Pasifik Cegah COVID-19 Versi ACI
Presiden Jokowi Serukan untuk Benci Produk Luar Negeri
Gaun Sate Ayam Wakil Indonesia di Miss Grand International
Kota Salatiga  Paling Toleran se-Indonesia Versi Setara Instute
Wah, Ada WARKOP milik Orang Indonesia di Swiss!

62 Pride  25 Januari 2021, 08:31

Perdagangan Indonesia Rekor Surplus Tertinggi Sejak 2011

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

Perdagangan Indonesia Rekor Surplus Tertinggi Sejak 2011

Warga bangsa ini patut bersyukur atas kinerja perdagangan nasional pada tahun 2020. Di bawah tekanan pandemi Covid-19, kinerja perdagangan tetap mencatat surplus USD21,74 miliar. 
 

Yang membanggakan lagi, angka surplus itu tercatat sebagai yang tertinggi sejak 2011. Ketika itu, surplusnya sempat menyentuh hingga USD26,06 miliar. Hasil surplus 2020 itu sudah diperkirakan jauh hari sebelumnya.
 

Pencapaian itu terkonfirmasi dari hasil laporan Badan Pusat Statistik (BPS), Jumat (15/1/2021). Lembaga itu merilis angka ekspor dan impor sepanjang 2020. Secara kumulatif, total nilai ekspor tercatat mencapai USD163,31 miliar. Dan impor, sebesar US$141,56 miliar, surplus USD21,74 miliar. Berkaitan dengan pencapaian surplus tersebut, penyebabnya adalah neraca impor yang mengalami koreksi cukup dalam. Pada saat yang bersamaan, ekspor tidak mengalami tekanan yang begitu berat.
 

Tak dipungkiri, Covid-19 telah memukul ekonomi di negara mana pun. Termasuk Indonesia. Dalam kondisi tersebut, terjadi tekanan terhadap konsumsi di negara terkait. Itu membuat permintaan produk dari negara lain berkurang. Namun warga bangsa ini patut bersyukur, tekanan terhadap ekspor Indonesia tidak begitu besar, yakni hanya terjadi penurunan sebesar 2,61 persen secara tahunan (year of year). Adapun, impor mengalami koreksi hingga 17,34 persen.
 

Sementara itu, kinerja perdagangan nasional bulanan tercatat positif. Selama Desember 2020, terjadi surplus sebesar USD2,1 miliar. Angka ini tercetak dari capaian ekspor yang sebesar USD16,54 miliar dan impor USD14,44 miliar. Kinerja ekspor pada Desember mengalami kenaikan yang cukup besar. Bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, ekspor tercatat naik 8,39 persen. Adapun, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, terjadi kenaikan 14,63 persen.
 

Menurut laporan BPS, peningkatan nilai ekspor itu dipengaruhi kenaikan ekspor nonmigas yang hampir mencapai 17 persen. “Perkembangan ekspor bulanan yang positif tersebut diharapkan terus berlanjut pada bulan-bulan mendatang, sejalan dengan geliat manufaktur dan aktivitas produksi yang mulai terjadi beberapa waktu terakhir,” ujar Kepala BPS Suhariyanto.

 

Sudah Diprediksi

Atas kinerja ekspor impor seperti yang dilaporkan BPS, Mendag Muhammad Lutfi pun sudah memprediksi situasi itu. Mendag mengakui bahwa kinerja ekspor impor akan mengalami koreksi yang tidak signifikan.
 

“Karena tidak signifikan, kita melihat basis yang sudah rendah itu, kita akan mengalami perbaikan yang signifikan di 2021, terutama untuk ekspor dan impor," ujar Lutfi, dalam konferensi pers, Senin (11/1/2021).
 

Meski akan tumbuh positif, Lutfi juga berpendapat kinerja ekspor dan impor akan tergantung pada distribusi vaksinasi Covid-19, baik di Indonesia dan di negara lainnya. Lutfi mengatakan pula, ekonomi akan menggeliat kembali begitu vaksinasi Covid-19 dilakukan. Wajar saja Mendag Muhammad Lutfi berpendapat demikian. Tentu dia memiliki dasar yang kuat sehingga prediksinya tidak melesat dari laporan BPS. Apalagi, salah satu indikasinya berupa perbaikan kinerja manufaktur yang terekam melalui data Purchasing Managers’ Indeks (PMI) yang dirilis HIS Markit.
 

Selama beberapa bulan terakhir ini, indeks manufaktur tercatat terus meningkat, dan pada akhir bulan lalu telah berhasil menembus level 51,3. Angka di atas 50 mencerminkan adanya ekspansi. Memupuk optimisme yang tinggi, patut terus dipompa. Namun, bangsa ini tetap harus waspada. Pasalnya, pandemi Covid-19 seperti belum berujung.
 

Angka kasus positif terus mengalami kenaikan. Jumlah kasus terkonfirmasi positif Covid-19 bertambah 9.086 pada Senin (18/1/2021). Total positif menjadi 917.015, sembuh 745.935, dan korban meninggal mencapai 26.282 orang. Situasi itu tentu mengkhawatirkan. Pada Jumat (15/1/2021), kasus baru di tanah air bahkan kembali memecahkan rekor, yakni 12.818 kasus. Kenaikan jumlah kasus yang tinggi tersebut bisa terjadi karena jumlah spesimen yang diuji sangat banyak, yakni nyaris dua kali lipat dari target WHO yang di atas 38.500 tes per hari. Tercatat ada 72.957 spesimen yang diuji.
 

Di tengah kondisi tersebut, harapan besar terus digadang. Pemulihan ekonomi terus bergerak positif, aktivitas ekspor impor di dalam negeri berada dalam tren yang terus meningkat, didukung pemulihan permintaan global dan kenaikan harga sejumlah komoditas seperti  minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).

Baca Artikel Lain





62 Pride  01 Maret 2021

Wah, Ada WARKOP milik Orang Indonesia di Swiss!

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka


Artikel Terbaru