62 Pride  29 Juli 2020, 15:06

Pesut Mahakam, Sang Legenda yang Kian Langka

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

Pesut Mahakam, Sang Legenda yang Kian Langka

Hi Lokalovers! Di linimasa sedang ramai postingan tentang seorang warga yang mengabadikan kemunculan pesut di sekitar Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Kemunculan mamalia air tawar ini menggembirakan warga sekitar sungai lantaran keberadaannya yang sudah langka dan terancam punah. Beberapa ekor pesut tampak berenang dan melompat-lompat di permukaan sungai terbesar di Kalimantan Timur itu.

 

Indonesia yang kaya akan beraneka ragam fauna, salah satunya jenis mamalia. Tercatat ada sekitar 700 jenis mamalia di Indonesia. Salah satu mamalia yang ada di Indonesia ialah lumba-lumba. Umumnya, lumba-lumba Indonesia hidup di air tawar atau perairan asin seperti lumba-lumba khas dari Kalimantan yaitu Pesut Mahakam yang hidup di air tawar. Pada tahun 1989, Gubernur Kalimantan Timur telah menetapkan Pesut Mahakam sebagai fauna identitas atau maskot Provinsi Kalimantan Timur.

 

Pesut Mahakam atau dalam bahasa latin disebut Orcaella brevirostris adalah mamalia yang juga dijuluki sebagai lumba-lumba air tawar hidup di perairan Sungai Mahakam yang bermuara di Selat Makassar. Pesut Mahakam mempunyai kepala berbentuk bulat dengan kedua mata yang kecil, tubuh pesut berwarna abu-abu dengan bagian bawah yang lebih tua, yang membedakannya dengan lumba-lumba adalah tubuh pesut yang tidak memiliki moncong. Pesut Mahakam adalah karnivora yang memakan ikan, moluska, dan hewan krustasea dengan memiliki umur yang cukup panjang, yakni dapat hidup sampai usia 28 tahun.

 

Ilustrasi foto: reddit.com

 

Pesut Mahakam juga menjadi legenda, untuk mengenal lebih jauh, berikut faktanya dari berbagai sumber. Simak di bawah ini, ya!

 

Ditetapkan sebagai satwa kritis dan terancam punah

IUCN (International United of Conservation Nature and Matural Resources) pada tahun 2000 telah menetapkan Pesut Mahakam dalam Critically Endangered Spesies atau satwa kritis dan terancam punah.

Indonesia sendiri, telah lama melindungi satwa ini melalui Keputusan Menteri Pertanian No.45/Kpts/Um/1/1975, Pesut Mahakam ditetapkan sebagai jenis satwa yang dilindungi. Kemudian diatur kembali melalui Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 turunan dari UU No. 5 Tahun 1990 Tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya.

 

Penyebab terbesar matinya Pesut Mahakam adalah terjebak jaring ikan milik nelayan

Aktivitas manusia menjadi ancaman atas keberadaan satwa liar ini. Kematian Pesut Mahakam terbesar disebabkan karena mamalia ini terjebak di jaring nelayan (rengge) saat ingin memangsa ikan yang berkumpul di jaring tersebut. Ironis, mamalia air ini mati tenggelam karena tak bisa bernafas di air.

Selain itu, tongkang atau ponton yang hilir mudik membawa batu bara dan kelapa sawit juga mengancam Pesut Mahakam. Lumba-lumba air tawar ini bisa mati tertabrak ponton, speedboat,ataupun kapal lainnya.

Ancaman lain adalah penangkapan ikan dengan menggunakan setrum atau racun. Penangkapan ikan yang tak ramah lingkungan mengancam ketersediaan makanan Pesut Mahakam. Tidak hanya itu, erosi dan pendangkalan sungai, dan alih fungsi lahan juga mengancam keberadaan mereka.

 

Jumlah lumba-lumba Irrawaddy ini hanya tinggal sekitar 80 individu saja

Dilansir dari Antara data Yayasan RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia) mencatat populasi Pesut Mahakam jumlahnya pada tahun 2012 diperkirakan hanya 92 ekor. Peneliti RASI Danielle Kreb menuturkan pada 2017, hanya tersisa sekitar 75-80 individu Pesut Mahakam di kawasan sungai Kabupaten Kutai Kartanegara. Metode yang digunakan RASI sejak 2005-2016 adalah menggunakan penghitungan sirip.

Uniknya, bentuk sirip punggung Pesut Mahakam satu dengan yang lain berbeda, jadi semacam sidik jari pada manusia. Inilah yang menjadi pembeda antar individu Pesut Mahakam.

 

Pesut Mahakam bukan ikan melainkan mamalia

Ivan Yusfi Noor dalam bukunya Pesut Mahakam, Profil, Peluang Kepunahan dan Upaya Konservasinya (2014) menjelaskan beberapa perbedaan Pesut Mahakan dengan ikan.

Pesut Mahakam berkembang biak dengan melahirkan dan menyusui. Pesut Mahakam juga bernafas dengan paru-paru bukan insang. Secara periodik, akan mengambil oksigen dan menghembuskan karbondioksida. Lubang pernafasan ada di belakang kepala. Selain itu, kedudukan sirip ekor mamalia air berbentuk horizontal, sementara sirip ekor ikan vertikal.

Dilansir dari WWF, Pesut Mahakam merupakan perenang lambat, namun mereka dapat berenang dengan kecepatan antara 20-25 km/jam apabila merasa terancam atau dikejar oleh sebuah kapal yang melintas di habitat mereka. Pesut Mahakam juga dapat menyelam hingga 18 menit.

Mereka hidup dalam kelompok kecil hingga sekitar 10 individu dalam satu kelompok. Pesut Mahakam dapat hidup hingga 30 tahun. Panjang tubuh individu dewasa 1,9 m hingga 2,75 m, beratnya sekitar 130 kg. Sementara bayi pesut sekitar 76-100 cm dengan berat 10 kg. Pesut Mahakam suka makan ikan, cumi, udang, dan hewan laut lainnya.

 

Upaya pelestarian Pesut Mahakam

Cara pelestarian pesut mahakam selain dengan memberikan status perlindungan secara hukum, juga dengan menetapkan kawasan perlindungan habitat. Kecepatan kapal juga perlu diatur menjadi sekitar 12 km/jam saat moda transportasi air berpapasan dengan kawanan Pesut Mahakam.

Selain itu penggunaan jaring nelayan juga perlu diatur baik dari kepadatan, jumlah, dan ukuran mata jaring, serta waktu dan tempat pemasangan jaring ikan. Hal ini penting dilakukan agar tak menjerat Pesut Mahakam.

Upaya lain yang bisa dilakukan adalah menanggulangi penangkapan ikan yang tidak sesuai aturan dan melakukan penegakan hukum. Kemudian, pengembangan mata pencaharian lain dari nelayan tangkap menjadi budi daya ikan, juga pengembangan ekowisata berbasis Pesut Mahakam.

 

Legenda Pesut Mahakam

Ada banyak kisah terkait Pesut Mahakam, berikut ini adalah salah satu versi legendanya. Alkisah, ada anak laki-laki dan perempuan yang ditinggal meninggal oleh ibu mereka kemudian ayahnya menikah lagi dengan ibu tiri yang jahat. Pada suatu hari mereka disuruh mencari kayu bakar di hutan, saat kembali ke rumah ternyata rumah mereka sudah kosong. Ayah dan ibu tiri mereka telah pergi dari rumah sambil membawa barang-barang mereka. Kedua anak ini kemudian mencari orangtuanya dan akhirnya mereka berhasil menemukan rumah baru ayah dan ibu tirinya. Saat mereka tiba di rumah, ayah dan ibu tiri mereka tidak berada di rumah. Karena lapar, mereka memakan nasi dalam periuk yang telah menjadi bubur. Ternyata bubur tersebut sangat panas sehingga mereka berlari keluar rumah dan  memeluk pohon-pohon pisang yang mereka lewati. Pohon-pohon ini jadi layu karena suhu panas dari kedua anak ini. Saking panasnya mereka meloncat ke sungai dan berubah menjadi Pesut Mahakam. Menurut kisahnya, mereka kena kutukan ibu tiri mereka yang diyakini merupakan makhluk halus alias bukan manusia.

 

Ilustrasi foto: Tribunnews

 

Nah, itulah sejumlah fakta dan legenda Pesut Mahakam, lumba-lumba air tawar satu-satunya di Indonesia yang kian terancam punah. Sebenarnya, pesut Mahakam tidak memiliki predator, tetapi manusialah yang menjadi predator bagi pesut ini karena seringnya penangkapan dengan menggunakan jaring ataupun dinamit. Untuk itu, sudah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga dan melestarikan Pesut Mahakam, mamalia asli Indonesia.

 

Baca Artikel Lain

Wisata Berkelanjutan di Labuan Bajo

62 Pride  22 September 2020, 09:49

Wisata Berkelanjutan di Labuan Bajo

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

Labuan Bajo merupakan kawasan yang berlokasi di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Tak begitu jauh dari Bali, Labuan Bajo semakin diminati dan Read more...

Kolaborasi Sepatu Merek Lokal dengan Pewarna Alami dari Daun Teh
Ramengvrl Gabung dengan Label Rekaman Amerika Serikat, Empire
Bangga! Marissa Hutabarat, Hakim Keturunan Indonesia di Amerika
Keren Banget Ospek di ITS versi Minecraft!

62 Pride  29 Juli 2020, 15:06

Pesut Mahakam, Sang Legenda yang Kian Langka

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

Pesut Mahakam, Sang Legenda yang Kian Langka

Hi Lokalovers! Di linimasa sedang ramai postingan tentang seorang warga yang mengabadikan kemunculan pesut di sekitar Sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Kemunculan mamalia air tawar ini menggembirakan warga sekitar sungai lantaran keberadaannya yang sudah langka dan terancam punah. Beberapa ekor pesut tampak berenang dan melompat-lompat di permukaan sungai terbesar di Kalimantan Timur itu.

 

Indonesia yang kaya akan beraneka ragam fauna, salah satunya jenis mamalia. Tercatat ada sekitar 700 jenis mamalia di Indonesia. Salah satu mamalia yang ada di Indonesia ialah lumba-lumba. Umumnya, lumba-lumba Indonesia hidup di air tawar atau perairan asin seperti lumba-lumba khas dari Kalimantan yaitu Pesut Mahakam yang hidup di air tawar. Pada tahun 1989, Gubernur Kalimantan Timur telah menetapkan Pesut Mahakam sebagai fauna identitas atau maskot Provinsi Kalimantan Timur.

 

Pesut Mahakam atau dalam bahasa latin disebut Orcaella brevirostris adalah mamalia yang juga dijuluki sebagai lumba-lumba air tawar hidup di perairan Sungai Mahakam yang bermuara di Selat Makassar. Pesut Mahakam mempunyai kepala berbentuk bulat dengan kedua mata yang kecil, tubuh pesut berwarna abu-abu dengan bagian bawah yang lebih tua, yang membedakannya dengan lumba-lumba adalah tubuh pesut yang tidak memiliki moncong. Pesut Mahakam adalah karnivora yang memakan ikan, moluska, dan hewan krustasea dengan memiliki umur yang cukup panjang, yakni dapat hidup sampai usia 28 tahun.

 

Ilustrasi foto: reddit.com

 

Pesut Mahakam juga menjadi legenda, untuk mengenal lebih jauh, berikut faktanya dari berbagai sumber. Simak di bawah ini, ya!

 

Ditetapkan sebagai satwa kritis dan terancam punah

IUCN (International United of Conservation Nature and Matural Resources) pada tahun 2000 telah menetapkan Pesut Mahakam dalam Critically Endangered Spesies atau satwa kritis dan terancam punah.

Indonesia sendiri, telah lama melindungi satwa ini melalui Keputusan Menteri Pertanian No.45/Kpts/Um/1/1975, Pesut Mahakam ditetapkan sebagai jenis satwa yang dilindungi. Kemudian diatur kembali melalui Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 turunan dari UU No. 5 Tahun 1990 Tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya.

 

Penyebab terbesar matinya Pesut Mahakam adalah terjebak jaring ikan milik nelayan

Aktivitas manusia menjadi ancaman atas keberadaan satwa liar ini. Kematian Pesut Mahakam terbesar disebabkan karena mamalia ini terjebak di jaring nelayan (rengge) saat ingin memangsa ikan yang berkumpul di jaring tersebut. Ironis, mamalia air ini mati tenggelam karena tak bisa bernafas di air.

Selain itu, tongkang atau ponton yang hilir mudik membawa batu bara dan kelapa sawit juga mengancam Pesut Mahakam. Lumba-lumba air tawar ini bisa mati tertabrak ponton, speedboat,ataupun kapal lainnya.

Ancaman lain adalah penangkapan ikan dengan menggunakan setrum atau racun. Penangkapan ikan yang tak ramah lingkungan mengancam ketersediaan makanan Pesut Mahakam. Tidak hanya itu, erosi dan pendangkalan sungai, dan alih fungsi lahan juga mengancam keberadaan mereka.

 

Jumlah lumba-lumba Irrawaddy ini hanya tinggal sekitar 80 individu saja

Dilansir dari Antara data Yayasan RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia) mencatat populasi Pesut Mahakam jumlahnya pada tahun 2012 diperkirakan hanya 92 ekor. Peneliti RASI Danielle Kreb menuturkan pada 2017, hanya tersisa sekitar 75-80 individu Pesut Mahakam di kawasan sungai Kabupaten Kutai Kartanegara. Metode yang digunakan RASI sejak 2005-2016 adalah menggunakan penghitungan sirip.

Uniknya, bentuk sirip punggung Pesut Mahakam satu dengan yang lain berbeda, jadi semacam sidik jari pada manusia. Inilah yang menjadi pembeda antar individu Pesut Mahakam.

 

Pesut Mahakam bukan ikan melainkan mamalia

Ivan Yusfi Noor dalam bukunya Pesut Mahakam, Profil, Peluang Kepunahan dan Upaya Konservasinya (2014) menjelaskan beberapa perbedaan Pesut Mahakan dengan ikan.

Pesut Mahakam berkembang biak dengan melahirkan dan menyusui. Pesut Mahakam juga bernafas dengan paru-paru bukan insang. Secara periodik, akan mengambil oksigen dan menghembuskan karbondioksida. Lubang pernafasan ada di belakang kepala. Selain itu, kedudukan sirip ekor mamalia air berbentuk horizontal, sementara sirip ekor ikan vertikal.

Dilansir dari WWF, Pesut Mahakam merupakan perenang lambat, namun mereka dapat berenang dengan kecepatan antara 20-25 km/jam apabila merasa terancam atau dikejar oleh sebuah kapal yang melintas di habitat mereka. Pesut Mahakam juga dapat menyelam hingga 18 menit.

Mereka hidup dalam kelompok kecil hingga sekitar 10 individu dalam satu kelompok. Pesut Mahakam dapat hidup hingga 30 tahun. Panjang tubuh individu dewasa 1,9 m hingga 2,75 m, beratnya sekitar 130 kg. Sementara bayi pesut sekitar 76-100 cm dengan berat 10 kg. Pesut Mahakam suka makan ikan, cumi, udang, dan hewan laut lainnya.

 

Upaya pelestarian Pesut Mahakam

Cara pelestarian pesut mahakam selain dengan memberikan status perlindungan secara hukum, juga dengan menetapkan kawasan perlindungan habitat. Kecepatan kapal juga perlu diatur menjadi sekitar 12 km/jam saat moda transportasi air berpapasan dengan kawanan Pesut Mahakam.

Selain itu penggunaan jaring nelayan juga perlu diatur baik dari kepadatan, jumlah, dan ukuran mata jaring, serta waktu dan tempat pemasangan jaring ikan. Hal ini penting dilakukan agar tak menjerat Pesut Mahakam.

Upaya lain yang bisa dilakukan adalah menanggulangi penangkapan ikan yang tidak sesuai aturan dan melakukan penegakan hukum. Kemudian, pengembangan mata pencaharian lain dari nelayan tangkap menjadi budi daya ikan, juga pengembangan ekowisata berbasis Pesut Mahakam.

 

Legenda Pesut Mahakam

Ada banyak kisah terkait Pesut Mahakam, berikut ini adalah salah satu versi legendanya. Alkisah, ada anak laki-laki dan perempuan yang ditinggal meninggal oleh ibu mereka kemudian ayahnya menikah lagi dengan ibu tiri yang jahat. Pada suatu hari mereka disuruh mencari kayu bakar di hutan, saat kembali ke rumah ternyata rumah mereka sudah kosong. Ayah dan ibu tiri mereka telah pergi dari rumah sambil membawa barang-barang mereka. Kedua anak ini kemudian mencari orangtuanya dan akhirnya mereka berhasil menemukan rumah baru ayah dan ibu tirinya. Saat mereka tiba di rumah, ayah dan ibu tiri mereka tidak berada di rumah. Karena lapar, mereka memakan nasi dalam periuk yang telah menjadi bubur. Ternyata bubur tersebut sangat panas sehingga mereka berlari keluar rumah dan  memeluk pohon-pohon pisang yang mereka lewati. Pohon-pohon ini jadi layu karena suhu panas dari kedua anak ini. Saking panasnya mereka meloncat ke sungai dan berubah menjadi Pesut Mahakam. Menurut kisahnya, mereka kena kutukan ibu tiri mereka yang diyakini merupakan makhluk halus alias bukan manusia.

 

Ilustrasi foto: Tribunnews

 

Nah, itulah sejumlah fakta dan legenda Pesut Mahakam, lumba-lumba air tawar satu-satunya di Indonesia yang kian terancam punah. Sebenarnya, pesut Mahakam tidak memiliki predator, tetapi manusialah yang menjadi predator bagi pesut ini karena seringnya penangkapan dengan menggunakan jaring ataupun dinamit. Untuk itu, sudah tanggung jawab kita bersama untuk menjaga dan melestarikan Pesut Mahakam, mamalia asli Indonesia.

 

Baca Artikel Lain

62 Pride  22 September 2020

Wisata Berkelanjutan di Labuan Bajo

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka



62 Pride  21 September 2020

Ramengvrl Gabung dengan Label Rekaman Amerika Serikat, Empire

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka



Kabar Terkini  19 September 2020

Keren Banget Ospek di ITS versi Minecraft!

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka


Artikel Terbaru

62 Pride  22 September 2020

Wisata Berkelanjutan di Labuan Bajo

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka

62 Pride  21 September 2020

Ramengvrl Gabung dengan Label Rekaman Amerika Serikat, Empire

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka

Kabar Terkini  19 September 2020

Keren Banget Ospek di ITS versi Minecraft!

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka