Kabar Terkini  06 Maret 2021, 12:20

Presiden Jokowi Serukan untuk Benci Produk Luar Negeri

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

Presiden Jokowi Serukan untuk Benci Produk Luar Negeri

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak masyarakat Indonesia untuk membenci produk luar negeri. Ia meminta masyarakat untuk mencintai produk lokal.

 

"Produk-produk dalam negeri gaungkan, gaungkan juga benci produk-produk luar negeri. Bukan hanya cinta, tapi benci. Cinta barang kita, benci produk luar negeri," ucap Jokowi dalam Peresmian Pembukaan Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan Tahun 2021, Kamis (4/3). Jokowi berharap masyarakat bisa menjadi konsumen yang loyal untuk produk-produk dalam negeri. Dengan begitu, penjualan dari produsen lokal bisa meningkat ke depannya.

 

Lebih lanjut, kepala negara juga memerintahkan Kementerian Perdagangan untuk memiliki kebijakan dan strategi dalam memasarkan produk lokal. Salah satunya dengan menempatkan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di tempat strategis. "Pusat belanja, mal harus terus didorong dari Jakarta ke daerah untuk buatan produk-produk Indonesia khususnya UMKM. Jangan sampai ruang depan, lokasi-lokasi strategis justru diisi oleh brand luar negeri," tegas Jokowi.

 

Ia meminta Kementerian Perdagangan mengatur agar lokasi penjualan merek luar negeri dipindah ke tempat yang tidak strategis. Dengan demikian, seluruh tempat strategis akan menjadi jatah merek-merek lokal. "Branding harus melekat agar lebih mencintai produk Indonesia dibandingkan dengan produk luar negeri. Jumlah 270 juta jiwa seharusnya konsumen loyal untuk produk kita sendiri," kata Jokowi.

 

Ia menambahkan pelaku UMKM juga harus dibantu untuk meningkatkan penjualannya ke luar negeri. Sebab, UMKM kerap kesulitan dengan masalah kapasitas karena kekurangan modal. "Dorong perbankan agar mau suntikan dana untuk UMKM agar kapasitas bisa naik," pungkas Jokowi

 

Pernyataan Presiden Jokowi soal benci produk luar negeri menuai kontroversi. Apakah Jokowi anti-impor? Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi pun angkat bicara. Menurutnya, pernyataan benci produk luar negeri muncul sebagai bentuk kekecewaan Jokowi terhadap praktik predatory pricing oleh penjual asing di platform perdagangan digital. Praktik ini dinilai merugikan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Indonesia.
 

Lutfi menyampaikan laporan mengenai kecurangan ini beberapa menit sebelum Jokowi berpidato dalam Pembukaan Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan Tahun 2021 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (4/3).
 

Laporan itu rupanya membuat Jokowi murka. "Jadi kalau disalahin, salahin Menteri Perdagangan karena brief-nya bikin naik pitam. Barang-barang kita, usaha UMKM kita diserang secara tidak adil," kata Lutfi usai acara.
 

Adapun, predatory pricing adalah strategi pelaku usaha dalam menjual produk dengan harga yang sangat rendah untuk menghancurkan kompetisi pasar. Hal melanggar azas perdagangan lantaran tidak menciptakan kesetaraan dan keadilan antar pelaku usaha. Lutfi kemudian menjelaskan praktik predatory pricing temuannya. Menurutnya, ada penjual online di luar negeri yang menjual hijab di e-commerce Tanah Air dengan harga yang sangat murah, Rp 1.900 per potong. "Ini jauh di bawah ongkos produksi yang ciptakan nilai tambah untuk Indonesia. Ini hal yang dilarang WTO (Organisasi Perdagangan Dunia)," ujar dia. 
 

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki juga merespons pernyataan Jokowi. Menurutnya, Jokowi menyampaikan hal tersebut lantaran keberpihakannya pada produk lokal UMKM, baik di ranah digital, maupun konvensional. “Presiden mengajak kita membela, melindungi, dan memberdayakan UMKM agar naik kelas,” ujar Teten seperti dikutip dari keterangan pers.
 

Teten menambahkan, Jokowi selalu memikirkan nasib produk lokal setiap kali berkunjung ke pusat perbelanjaan di Jakarta maupun kota-kota besar lainnya. Presiden juga sering melihat lokasi strategis yang dikuasai oleh merek luar terkenal. “Itulah alasan Presiden selalu menyampaikan, kapan merek lokal akan naik kelas kalau di negerinya sendiri tidak diberi tempat terbaik?” ujar Teten.
 

“Membela produk UMKM harus dilakukan dengan pilihan kata-kata yang tajam biar semua orang jadi tersadar bahwa kita harus bangga dengan hasil karya anak bangsa sendiri,” ujar Teten. Sebelumnya, Jokowi menyerukan ajakan untuk benci produk luar negeri. Sementara, slogan cintai produk dalam negeri juga tetap digaungkan. Pernyataan itu dinilai anti-impor. "Bukan hanya cinta, tapi benci. Cinta barang kita, benci produk dari luar negeri," kata Jokowi saat peresmian Pembukaan Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan Tahun 2021 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (4/3). Menurutnya, slogan benci produk luar negeri bertujuan agar konsumen Indonesia menjadi loyal terhadap produk lokal. Branding produk Indonesia pun harus melekat agar rasa cinta produk lokal tumbuh pada masyarakat.
 

Bagaimana dengan pendapat Ku Ka?

Pada dasarnya sih jika bicara tentang dukungan terhadap produk lokal, Ku Ka pasti akan setuju apalagi jika bapak presiden Joko Widodo yang menyerukan masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri karena seiring berkembangnya jaman. Namun ternyata cinta saja tidak cukup, tapi harus ada action dan mungkin kalimat yang tepat daripada ‘benci produk luar negeri’ adalah menggaungkan cinta dan memperbaiki kualitas dan regulasi produk dalam negeri.

 

Produk lokal juga tak kalah keren dan memiliki kualitas yang tak bisa diragukan lagi, bahkan bisa didapat dengan harga yang lebih terjangkau. Jika ini dilakukan tentu akan berdampak besar bagi perekonomian Indonesia. Selain akan mengangkat industri sektor UMKM, membuka lapangan kerja baru yang lebih banyak hingga akhirnya mempercepatan pemulihan ekonomi nasional.

 

Bahkan ajakan ini sudah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, yang dilanjutkan dengan Peraturan Menteri Perindustrian No. 2 Tahun 2014 tentang Pedoman P3DN dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. program P3DN sebagai salah satu fokus pembinaan Kemenperin yang tercantum juga dalam Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional Tahun 2015-2035 ini dilakukan dalam rangka mencapai beberapa sasaran, di antaranya adalah pemberian insentif sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), kampanye cinta dan bangga menggunakan produk dalam negeri, serta pemberian insentif kepada pihak swasta yang konsisten memakai produk dalam negeri.

 

Dukungan dari para Pemerintah dan Perindustrian tidak akan berjalan jika tidak disertai dengan dukungan masyarakat indonesia. Maka dari itu marilah kita tanamkan dalam diri kita untuk mencintai produk dalam negeri. Jika bukan kita maka siapa lagi, jika bukan sekarang lantas kapan lagi.

 

Bagaimana dengan pendapat Lokalovers?  Apakah kalian setuju, kampanye benci produk asing dan mencintai produk lokal digaungkan untuk melindungi UMKM?
 

 

Baca Artikel Lain

Waspada Siklon Tropis Surigae! BMKG Prediksi Berkembang Jadi Topan
Indonesia Raup Rp405 juta dari Pameran Makanan-Minuman di China
Kemendikbud: Pancasila dan Bahasa Indonesia Masih Mata Kuliah Wajib
Tampil Cantik dengan Aksesoris Unik di KU KA
Bangga Buatan Indonesia Gerakkan Ekonomi RI

Kabar Terkini  06 Maret 2021, 12:20

Presiden Jokowi Serukan untuk Benci Produk Luar Negeri

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

Presiden Jokowi Serukan untuk Benci Produk Luar Negeri

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak masyarakat Indonesia untuk membenci produk luar negeri. Ia meminta masyarakat untuk mencintai produk lokal.

 

"Produk-produk dalam negeri gaungkan, gaungkan juga benci produk-produk luar negeri. Bukan hanya cinta, tapi benci. Cinta barang kita, benci produk luar negeri," ucap Jokowi dalam Peresmian Pembukaan Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan Tahun 2021, Kamis (4/3). Jokowi berharap masyarakat bisa menjadi konsumen yang loyal untuk produk-produk dalam negeri. Dengan begitu, penjualan dari produsen lokal bisa meningkat ke depannya.

 

Lebih lanjut, kepala negara juga memerintahkan Kementerian Perdagangan untuk memiliki kebijakan dan strategi dalam memasarkan produk lokal. Salah satunya dengan menempatkan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di tempat strategis. "Pusat belanja, mal harus terus didorong dari Jakarta ke daerah untuk buatan produk-produk Indonesia khususnya UMKM. Jangan sampai ruang depan, lokasi-lokasi strategis justru diisi oleh brand luar negeri," tegas Jokowi.

 

Ia meminta Kementerian Perdagangan mengatur agar lokasi penjualan merek luar negeri dipindah ke tempat yang tidak strategis. Dengan demikian, seluruh tempat strategis akan menjadi jatah merek-merek lokal. "Branding harus melekat agar lebih mencintai produk Indonesia dibandingkan dengan produk luar negeri. Jumlah 270 juta jiwa seharusnya konsumen loyal untuk produk kita sendiri," kata Jokowi.

 

Ia menambahkan pelaku UMKM juga harus dibantu untuk meningkatkan penjualannya ke luar negeri. Sebab, UMKM kerap kesulitan dengan masalah kapasitas karena kekurangan modal. "Dorong perbankan agar mau suntikan dana untuk UMKM agar kapasitas bisa naik," pungkas Jokowi

 

Pernyataan Presiden Jokowi soal benci produk luar negeri menuai kontroversi. Apakah Jokowi anti-impor? Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi pun angkat bicara. Menurutnya, pernyataan benci produk luar negeri muncul sebagai bentuk kekecewaan Jokowi terhadap praktik predatory pricing oleh penjual asing di platform perdagangan digital. Praktik ini dinilai merugikan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Indonesia.
 

Lutfi menyampaikan laporan mengenai kecurangan ini beberapa menit sebelum Jokowi berpidato dalam Pembukaan Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan Tahun 2021 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (4/3).
 

Laporan itu rupanya membuat Jokowi murka. "Jadi kalau disalahin, salahin Menteri Perdagangan karena brief-nya bikin naik pitam. Barang-barang kita, usaha UMKM kita diserang secara tidak adil," kata Lutfi usai acara.
 

Adapun, predatory pricing adalah strategi pelaku usaha dalam menjual produk dengan harga yang sangat rendah untuk menghancurkan kompetisi pasar. Hal melanggar azas perdagangan lantaran tidak menciptakan kesetaraan dan keadilan antar pelaku usaha. Lutfi kemudian menjelaskan praktik predatory pricing temuannya. Menurutnya, ada penjual online di luar negeri yang menjual hijab di e-commerce Tanah Air dengan harga yang sangat murah, Rp 1.900 per potong. "Ini jauh di bawah ongkos produksi yang ciptakan nilai tambah untuk Indonesia. Ini hal yang dilarang WTO (Organisasi Perdagangan Dunia)," ujar dia. 
 

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki juga merespons pernyataan Jokowi. Menurutnya, Jokowi menyampaikan hal tersebut lantaran keberpihakannya pada produk lokal UMKM, baik di ranah digital, maupun konvensional. “Presiden mengajak kita membela, melindungi, dan memberdayakan UMKM agar naik kelas,” ujar Teten seperti dikutip dari keterangan pers.
 

Teten menambahkan, Jokowi selalu memikirkan nasib produk lokal setiap kali berkunjung ke pusat perbelanjaan di Jakarta maupun kota-kota besar lainnya. Presiden juga sering melihat lokasi strategis yang dikuasai oleh merek luar terkenal. “Itulah alasan Presiden selalu menyampaikan, kapan merek lokal akan naik kelas kalau di negerinya sendiri tidak diberi tempat terbaik?” ujar Teten.
 

“Membela produk UMKM harus dilakukan dengan pilihan kata-kata yang tajam biar semua orang jadi tersadar bahwa kita harus bangga dengan hasil karya anak bangsa sendiri,” ujar Teten. Sebelumnya, Jokowi menyerukan ajakan untuk benci produk luar negeri. Sementara, slogan cintai produk dalam negeri juga tetap digaungkan. Pernyataan itu dinilai anti-impor. "Bukan hanya cinta, tapi benci. Cinta barang kita, benci produk dari luar negeri," kata Jokowi saat peresmian Pembukaan Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan Tahun 2021 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (4/3). Menurutnya, slogan benci produk luar negeri bertujuan agar konsumen Indonesia menjadi loyal terhadap produk lokal. Branding produk Indonesia pun harus melekat agar rasa cinta produk lokal tumbuh pada masyarakat.
 

Bagaimana dengan pendapat Ku Ka?

Pada dasarnya sih jika bicara tentang dukungan terhadap produk lokal, Ku Ka pasti akan setuju apalagi jika bapak presiden Joko Widodo yang menyerukan masyarakat untuk mencintai produk dalam negeri karena seiring berkembangnya jaman. Namun ternyata cinta saja tidak cukup, tapi harus ada action dan mungkin kalimat yang tepat daripada ‘benci produk luar negeri’ adalah menggaungkan cinta dan memperbaiki kualitas dan regulasi produk dalam negeri.

 

Produk lokal juga tak kalah keren dan memiliki kualitas yang tak bisa diragukan lagi, bahkan bisa didapat dengan harga yang lebih terjangkau. Jika ini dilakukan tentu akan berdampak besar bagi perekonomian Indonesia. Selain akan mengangkat industri sektor UMKM, membuka lapangan kerja baru yang lebih banyak hingga akhirnya mempercepatan pemulihan ekonomi nasional.

 

Bahkan ajakan ini sudah tertuang dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, yang dilanjutkan dengan Peraturan Menteri Perindustrian No. 2 Tahun 2014 tentang Pedoman P3DN dalam Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. program P3DN sebagai salah satu fokus pembinaan Kemenperin yang tercantum juga dalam Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional Tahun 2015-2035 ini dilakukan dalam rangka mencapai beberapa sasaran, di antaranya adalah pemberian insentif sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), kampanye cinta dan bangga menggunakan produk dalam negeri, serta pemberian insentif kepada pihak swasta yang konsisten memakai produk dalam negeri.

 

Dukungan dari para Pemerintah dan Perindustrian tidak akan berjalan jika tidak disertai dengan dukungan masyarakat indonesia. Maka dari itu marilah kita tanamkan dalam diri kita untuk mencintai produk dalam negeri. Jika bukan kita maka siapa lagi, jika bukan sekarang lantas kapan lagi.

 

Bagaimana dengan pendapat Lokalovers?  Apakah kalian setuju, kampanye benci produk asing dan mencintai produk lokal digaungkan untuk melindungi UMKM?
 

 

Baca Artikel Lain




Fesyen & Kecantikan  14 April 2021

Tampil Cantik dengan Aksesoris Unik di KU KA

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka


Bisnis Lokal  13 April 2021

Bangga Buatan Indonesia Gerakkan Ekonomi RI

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka


Artikel Terbaru