Kabar Terkini  23 September 2020, 12:37

PSBB Babak 2

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

PSBB Babak 2

Pada generasi ini, kita telah menghadapi banyak tantangan. Tantangan-tantangan ini berbeda-beda dan harus kita hadapi dalam berbagai bentuk. Dari perang dunia hingga gejolak ekonomi, dan terjadinya perubahan iklim. Untungnya, kita telah keluar dai masa-masa kelam tersebut dan menjadi lebih kuat dan tangguh, hal ini tidak lepas dari lahirnya ide-ide untuk saling berbagi dan berkolaborasi hingga kemitraan yang strategis untuk memecahkan tantangan ini. Munculnya covid 19 adalah tantangan lain yang harus kita hadapai hingga hari ini. Di antara semua krisis yang kita hadapi, hanya ada segelintir dari mereka yang telah berdampak, atau memiliki potensi untuk mempengaruhi setiap manusia di luar sana - Covid-19 adalah salah satunya.


Saat Jakarta memasuki masa lockdown untuk mengendalikan penularan virus corona yang semakin meningkat. Persaingan politik pun kembali muncul dan masyarakat kelas bawah  di ibukota berbagai negara-negara juga bersiap-siap menghadapi kelaparan dan kemiskinan. Beberapa orang memilih untuk pindah dari kota ke desa demi keselamatan mereka, sementara itu jutaan orang masih terjebak di kota tanpa pekerjaan dan di antara mereka ada yang kehilangan tempat tinggal. Bahkan yang masih beruntung memiliki tempat tinggal tetapi memiliki ketidakpastian pekerjaan, mereka hanya mengandalkan upah harian menyesuaikan apa yang akan dimakan sehari-hari untuk bertahan hidup. Ada yang bilang, lockdown ini disebabkan oleh gelombang kedua tetapi sepertinya gelombang pertama pun belum kita lalui bahkan kurvanya belum mulai merata seperti negara tetangga kita yaitu Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Kapan persaingan ini akan berubah menjadi kolaborasi dan kemitraan untuk bersama-sama menghadapi tantangan pandemi ini?


Sebuah bisnis dihentikan tanpa adanya jaminan untuk dapat bangkit kembali menjadi kenyataan yang harus kita hadapi, tetapi yang paling menakutkan dan sulit untuk diketahui adalah bagaimana kita akan mengatasai peningkatan kasus dan kematian cari pandemi ini. Perjuangan untuk mendapatkan vaksin dan masih adanya beberapa politisi yang memanfaatkan kejadian ini untuk kepentingan pribadi telah semakin membuat negara kita terus menerus menjadi berita utama secara global untuk alasan yang salah.


Pemberlakuan PSBB akibat virus corona di Jakarta kini telah diperpanjang hingga 25 September. Namun, masih ada berbagai pelanggaran yang berlaku di jalan-jalan. Jutaan orang telah ‘dirampok’ dari pendapatan mereka dan jika tujuan PSBB saat ini untuk menahan virus gagal maka mereka harus menunggu bantuan dan menghadapi masa depan yang tidak pasti. Dan jika makanan dan uang sudah tidak tersedia bagi banyak orang yang terdampak, apakah pihak berwenang akan bertindak langsung untuk mencari solusi atau justru hanya melepaskan tanggang jawab kepada mereka yang membutuhkan? Sepertinya akan sulit bagi masyarakat kelas bawah untuk bertahan hingga akhir tahun jika belum ada satu pun rencana atau solusi pihak berwenang yang dieksekusi dengan baik.


Selamat bagi pemerintah yang telah menerapkan PSBB untuk mengendalikan dan menghentikan penyebaran virus corona, tetapi apakah pemerintah secara keseluruhan telah melaksanakan PSBB dengan baik. Mungkin jawaban dari kita semua adalah “Ya, bisa saja”. Dari semua tantangan yang dihadapi oleh generasi ini, kita harus meyakini bahwa kita pasti akan melewatinya bersama-sama juga.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 
In this generation, we have faced a lot of challenges. These challenges have been different and have we have dealt with in many different forms. From world wars to economic turmoils, and all the way to climate change. Fortunately, we have come out of most of them – stronger and more resilient, ideas sharing/collaborations to unlikely strategic partnership to solve this challenges. The advent of the covid 19 is another such challenge that sweeps us today. Among all of these crises that we’ve faced, there are only a handful of them that have impacted, or have had the potential to impact every human being out there – Covid-19 is one of them.
 
As Jakarta moves into another watered down lockdown to rein in the transmission of the rising coronavirus. The political rivalry is evident and the nations’s capital's lower-rung society also braces for its battle with hunger and poverty. While some have made the exodus out of the country’s capital to the safety of their villages, still there are millions that are still stuck in the city with no jobs and some losing their shelter. Even the lucky one to have a roof to live under, have uncertainty of their jobs that earned them their daily wages and thus, their daily rice.  Some say this lockdown is due to the second the wave and many questions if the first wave has left the country with the first campaign to flatten its curve has not even started to flatten like those of its neighbors, Singapore, Malaysia, Thailand and Vietnam. When will this rivalry becomes a center of collaborations and partnership for the challenges of this pandemic ?
 

A halted business with no guarantee of a quick revival stares many of us in the face.  But what scares us the most is the unknown of how we will overcome the rising cases and death this pandemic has brought.  The struggles to find a formula and to score politicians gains with their own agenda to handle this pandemic has made our beloved country a headline in global treading topic for the wrong reason. 

 

The watered down coronavirus induced PSBB in Jakarta has now been extended to 25th of September. Yet, there is chaos in the calm that prevails on the streets. Millions have been robbed of their incomes and if this current PSBB objectives to contained the virus fail then they are going to have to wait for aid and face an uncertain future. And as food and money run out for these millions, will the authorities take stock of the situation or will it just shrug off responsibility to those who are helping? There seems to be no plan in place for the underprivileged till year end and if there is one, it hasn’t been executed well.

 

Kudos to the government for implementing the “water down” PSBB, but could the overall government have executed the a better PSBB? The resounding answer from all of us only seems to be – Yes, it could have.  From all the challenges this generation has faced, we will definitely get through this together as well.

Baca Artikel Lain

PM Jepang Kenakan Masker Motif Batik Saat Berkunjung ke Indonesia
Pelatihan E-Learning GRATIS Bagi Koperasi & UMKM
Daftar program Bantuan Presiden (Banpres) Produktif atau BLT UMKM Secara Offline
Rescue: Si Putih, Stray Dog yang Disayang Para Pekerja
Pemerintah UEA Resmikan Nama Jalan Presiden Joko Widodo

Kabar Terkini  23 September 2020, 12:37

PSBB Babak 2

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

PSBB Babak 2

Pada generasi ini, kita telah menghadapi banyak tantangan. Tantangan-tantangan ini berbeda-beda dan harus kita hadapi dalam berbagai bentuk. Dari perang dunia hingga gejolak ekonomi, dan terjadinya perubahan iklim. Untungnya, kita telah keluar dai masa-masa kelam tersebut dan menjadi lebih kuat dan tangguh, hal ini tidak lepas dari lahirnya ide-ide untuk saling berbagi dan berkolaborasi hingga kemitraan yang strategis untuk memecahkan tantangan ini. Munculnya covid 19 adalah tantangan lain yang harus kita hadapai hingga hari ini. Di antara semua krisis yang kita hadapi, hanya ada segelintir dari mereka yang telah berdampak, atau memiliki potensi untuk mempengaruhi setiap manusia di luar sana - Covid-19 adalah salah satunya.


Saat Jakarta memasuki masa lockdown untuk mengendalikan penularan virus corona yang semakin meningkat. Persaingan politik pun kembali muncul dan masyarakat kelas bawah  di ibukota berbagai negara-negara juga bersiap-siap menghadapi kelaparan dan kemiskinan. Beberapa orang memilih untuk pindah dari kota ke desa demi keselamatan mereka, sementara itu jutaan orang masih terjebak di kota tanpa pekerjaan dan di antara mereka ada yang kehilangan tempat tinggal. Bahkan yang masih beruntung memiliki tempat tinggal tetapi memiliki ketidakpastian pekerjaan, mereka hanya mengandalkan upah harian menyesuaikan apa yang akan dimakan sehari-hari untuk bertahan hidup. Ada yang bilang, lockdown ini disebabkan oleh gelombang kedua tetapi sepertinya gelombang pertama pun belum kita lalui bahkan kurvanya belum mulai merata seperti negara tetangga kita yaitu Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam. Kapan persaingan ini akan berubah menjadi kolaborasi dan kemitraan untuk bersama-sama menghadapi tantangan pandemi ini?


Sebuah bisnis dihentikan tanpa adanya jaminan untuk dapat bangkit kembali menjadi kenyataan yang harus kita hadapi, tetapi yang paling menakutkan dan sulit untuk diketahui adalah bagaimana kita akan mengatasai peningkatan kasus dan kematian cari pandemi ini. Perjuangan untuk mendapatkan vaksin dan masih adanya beberapa politisi yang memanfaatkan kejadian ini untuk kepentingan pribadi telah semakin membuat negara kita terus menerus menjadi berita utama secara global untuk alasan yang salah.


Pemberlakuan PSBB akibat virus corona di Jakarta kini telah diperpanjang hingga 25 September. Namun, masih ada berbagai pelanggaran yang berlaku di jalan-jalan. Jutaan orang telah ‘dirampok’ dari pendapatan mereka dan jika tujuan PSBB saat ini untuk menahan virus gagal maka mereka harus menunggu bantuan dan menghadapi masa depan yang tidak pasti. Dan jika makanan dan uang sudah tidak tersedia bagi banyak orang yang terdampak, apakah pihak berwenang akan bertindak langsung untuk mencari solusi atau justru hanya melepaskan tanggang jawab kepada mereka yang membutuhkan? Sepertinya akan sulit bagi masyarakat kelas bawah untuk bertahan hingga akhir tahun jika belum ada satu pun rencana atau solusi pihak berwenang yang dieksekusi dengan baik.


Selamat bagi pemerintah yang telah menerapkan PSBB untuk mengendalikan dan menghentikan penyebaran virus corona, tetapi apakah pemerintah secara keseluruhan telah melaksanakan PSBB dengan baik. Mungkin jawaban dari kita semua adalah “Ya, bisa saja”. Dari semua tantangan yang dihadapi oleh generasi ini, kita harus meyakini bahwa kita pasti akan melewatinya bersama-sama juga.


---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 
In this generation, we have faced a lot of challenges. These challenges have been different and have we have dealt with in many different forms. From world wars to economic turmoils, and all the way to climate change. Fortunately, we have come out of most of them – stronger and more resilient, ideas sharing/collaborations to unlikely strategic partnership to solve this challenges. The advent of the covid 19 is another such challenge that sweeps us today. Among all of these crises that we’ve faced, there are only a handful of them that have impacted, or have had the potential to impact every human being out there – Covid-19 is one of them.
 
As Jakarta moves into another watered down lockdown to rein in the transmission of the rising coronavirus. The political rivalry is evident and the nations’s capital's lower-rung society also braces for its battle with hunger and poverty. While some have made the exodus out of the country’s capital to the safety of their villages, still there are millions that are still stuck in the city with no jobs and some losing their shelter. Even the lucky one to have a roof to live under, have uncertainty of their jobs that earned them their daily wages and thus, their daily rice.  Some say this lockdown is due to the second the wave and many questions if the first wave has left the country with the first campaign to flatten its curve has not even started to flatten like those of its neighbors, Singapore, Malaysia, Thailand and Vietnam. When will this rivalry becomes a center of collaborations and partnership for the challenges of this pandemic ?
 

A halted business with no guarantee of a quick revival stares many of us in the face.  But what scares us the most is the unknown of how we will overcome the rising cases and death this pandemic has brought.  The struggles to find a formula and to score politicians gains with their own agenda to handle this pandemic has made our beloved country a headline in global treading topic for the wrong reason. 

 

The watered down coronavirus induced PSBB in Jakarta has now been extended to 25th of September. Yet, there is chaos in the calm that prevails on the streets. Millions have been robbed of their incomes and if this current PSBB objectives to contained the virus fail then they are going to have to wait for aid and face an uncertain future. And as food and money run out for these millions, will the authorities take stock of the situation or will it just shrug off responsibility to those who are helping? There seems to be no plan in place for the underprivileged till year end and if there is one, it hasn’t been executed well.

 

Kudos to the government for implementing the “water down” PSBB, but could the overall government have executed the a better PSBB? The resounding answer from all of us only seems to be – Yes, it could have.  From all the challenges this generation has faced, we will definitely get through this together as well.

Baca Artikel Lain


Bisnis Lokal  22 Oktober 2020

Pelatihan E-Learning GRATIS Bagi Koperasi & UMKM

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka




62 Pride  20 Oktober 2020

Pemerintah UEA Resmikan Nama Jalan Presiden Joko Widodo

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka


Artikel Terbaru