Komunitas & Sosial  22 Februari 2021, 10:07

#ShopeeBunuhUMKM Dari Sudut Pandang Pos-Toy (Postingan Sotoy)

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

#ShopeeBunuhUMKM Dari Sudut Pandang Pos-Toy (Postingan Sotoy)

#ShopeeBunuhUMKM

Dari Sudut Pandang Pos-Toy (Postingan Sotoy)

Oleh: @wiwisedelweiss

 

Tercengang aku dibuatnya saat melihat postingan Kumparan tentang boomingnya tagar #ShopeeBunuhUMKM terkait cross border yang dibahas oleh dr.tirta. Menjadi menarik buat gue karena sangat relate dengan apa yang gue geluti 2 tahun lalu. Gue mencoba membuat penjelasan dan ulasan singkat terkait ini, sekaligus sedikit mengorek luka berfaedah karena gemes kenapa barang-barang lucu Indonesia sangat lambat bergerak maju bahkan mungkin tidak maju di negara sendiri.

 

Semua berawal dari memutuskan kerja di Ku Ka (Aku Suka) platform marketplace yang mendedikasikan dirinya KHUSUS untuk produk-produk lokal Indonesia. Sebagai Marcomm-nya gue mencoba digging apa yang bikin Ku Ka awarenessnya rendah dan growth transaksinya tidak cukup baik. Riset punya riset, gue pun sempat pesimis ketika memahami bahwa permasalahan Ku Ka adalah permasalahan negara ini. Mau gak mau Ku Ka harus bekerja dekat dengan pemerintah sambil “merayu” pasar untuk melirik.

 

Akhirnya Ku Ka mulai membuka diri untuk berkiriman surat sampai beraudiensi dengan pemerintah, terutama kementerian perdagangan dan kementerian perindustrian. Di satu kesempatan, ada undangan rapat dari kementerian perdagangan yang langsung dihadiri dengan Pak Menteri, Enggartiasto Lukita. Bahasannya seputar fungsi marketplace dalam menyerap produk lokal.

 

Di 2018 Kementerian Perindustrian sempat memaparkan bahwa serapan produk lokal di e-commerce Indonesia dibawah 10%. It means, dari sekian triliun transaksi di e-commerce (Shopee, Tokopedia, Lazada and the gank) tidak begitu mendongkrak perekonomian lokal atau khususnya UMKM Indonesia. Kok Bisa?? Salah satunya penyebabnya adalah cross border e-commerce aliasa perdagang digital lintas batas. Kalo kalian belanja di marketplace kemudian ada tulisan “barang di kirim dari luar negeri” nah itu.

 

Kebanyakan barang-barang tersebut adalah barang pabrikan China yang diproduksi secara massive sehingga bisa dijual secara murah kemudian masuk ke Indonesia, difasilitasi gratis ongkir. Sekarang gue mau bahas kenapa ini bisa membunuh UMKM Indonesia.

 

  1. Banyak Barang Plagiat

Salah satu konsekuensi masuk ke pasar digital adalah barang unik tanpa hak cipta atau perlindungan karya, bisa ditiru begitu saja. Dengan canggihnya data analisis, bisa dilihat barang apa saja yang paling diminati dan dengan mudahnya ditiru tanpa perlindungan. Ga usah jauh-jauh, merchandise band lokal juga banyak plagiat.

 

  1. Kapasitas Produksi

UMKM udah bisa diukur kapasitas produksinya, rata-rata mempekerjakan community sekitar, dihitung kecepatan tangannya. Dengan model yang dijual di marketplace design awalnya bisa ditiru, kemudian dibikin di luar sana dengan sistem pabrik. Mereka bisa cetak ribuan dalam semalam, di Indonesia cuma bisa kerjain ratusan atau mungkin puluhan doang.

 

  1. Logistik

Ini another problem, berhubung kita negara kepulauan dengan infrastruktur logistik yang tertinggal jauh dengan China yang jumlah bandaranya tahun lalu mencapai 235 bandara. Dengan bentuk kepulauan seharusnya pelabuhan menjadi kunci untuk logistik kita. Di sisi lain, ga semua bahan baku bisa kita dapatkan di Indonesia. Mirisnya, bahan mentahnya banyak di Indonesia, tapi harus diolah di luar negeri untuk kita beli lagi jadi bahan baku. Coba bayangin, berapa kali lipat biaya produksi yang harus dikeluarkan para UMKM yang mau menghasilkan barang dengan bahan baku terbaik? Melihat proses dari bahan mentah - bahan baku - hingga barang jadi yang sangat mempengaruhi angka.

 

  1. Harga Menjadi Tidak Bisa Bersaing

Suka gasuka pasar Indonesia ini masih price sensitive, cenderung cari harga lebih murah. Kalo ditawarin barang sama, apalagi barang-barang non primer, harga jauh lebih murah, cuma nunggu paling se-minggu, orang akan lebih pilih membeli barang pabrikan China. Plus difasilitasi gratis ongkir.

 

Udah kegambar ya kita kalah telak dan dibilang Shopee membunuh UMKM that’s the ugly truth. Pasar ga bisa disalahkan. Yang ada harusnya rasa tanggung jawab dalam berbisnis serta regulasi yang seharusnya melindungi barang produksi dalam negeri.

 

Pelaku marketplace yang memberlakukan cross border harusnya lebih bertanggung jawab dalam implementasinya di negara dia berbisnis, bukan hanya memikirkan kenaikan transaksi di platformnya. Diluar dari Ku Ka, sampai sekarang gue sebisa mungkin pakai Tokopedia daripada Shopee karena pernah terlibat dalam diskusi di ruang meeting Kementerian Perdagangan.

 

Pemerintah juga seharusnya peka, cross border juga bisa menguntungkan produk Indonesia, ASALKAN regulasi diperlonggar untuk UMKM yang akan mencari pasar di negeri orang. Pada kenyataannya, negara-negara lain punya proteksi lebih kuat untuk produk-produk negaranya, limitasi masuknya produk asing salah satunya, taukan sekeras apa pemerintah China terhadap penggunaan produk yang sudah dibuat oleh negaranya sendiri, ampe aplikasi aja harus pakai buatan sendiri. Kemudian, sebagai negara yang selalu dijadikan objek pasar, kita ga ada edukasi cukup mengenai strategi pasar luar negeri, kebanyakan pelaku UMKM mencari jalan sendiri. Plus sebaiknya dibantu pemasaran yang mudah dan seluas-luasnya di negara-negara lain, lewat kedutaan misalnya. Itu juga yang akhirnya Ku Ka lakukan (mengurasi produk-produk yang layak dibawa pameran di Luar Negeri). Intinya sih, jangan lembek-lembek amat sama produk dari negara orang dan agungkan produk negara sendiri.

Baca Artikel Lain

Blue Carbon Indonesia Simpan 17 Persen Cadangan Dunia
Letda Ajeng Tresna, Perempuan Penerbang Tempur Pertama Dalam Sejarah TNI AU
Pandemi Percepat Penerapan Smart City di Indonesia
Indonesia Raih 2 Gelar: Raja Minyak Sawit &  Raja Biodiesel Dunia
Indonesia Jadi Produsen Biodiesel Terbesar Dunia

Komunitas & Sosial  22 Februari 2021, 10:07

#ShopeeBunuhUMKM Dari Sudut Pandang Pos-Toy (Postingan Sotoy)

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

#ShopeeBunuhUMKM Dari Sudut Pandang Pos-Toy (Postingan Sotoy)

#ShopeeBunuhUMKM

Dari Sudut Pandang Pos-Toy (Postingan Sotoy)

Oleh: @wiwisedelweiss

 

Tercengang aku dibuatnya saat melihat postingan Kumparan tentang boomingnya tagar #ShopeeBunuhUMKM terkait cross border yang dibahas oleh dr.tirta. Menjadi menarik buat gue karena sangat relate dengan apa yang gue geluti 2 tahun lalu. Gue mencoba membuat penjelasan dan ulasan singkat terkait ini, sekaligus sedikit mengorek luka berfaedah karena gemes kenapa barang-barang lucu Indonesia sangat lambat bergerak maju bahkan mungkin tidak maju di negara sendiri.

 

Semua berawal dari memutuskan kerja di Ku Ka (Aku Suka) platform marketplace yang mendedikasikan dirinya KHUSUS untuk produk-produk lokal Indonesia. Sebagai Marcomm-nya gue mencoba digging apa yang bikin Ku Ka awarenessnya rendah dan growth transaksinya tidak cukup baik. Riset punya riset, gue pun sempat pesimis ketika memahami bahwa permasalahan Ku Ka adalah permasalahan negara ini. Mau gak mau Ku Ka harus bekerja dekat dengan pemerintah sambil “merayu” pasar untuk melirik.

 

Akhirnya Ku Ka mulai membuka diri untuk berkiriman surat sampai beraudiensi dengan pemerintah, terutama kementerian perdagangan dan kementerian perindustrian. Di satu kesempatan, ada undangan rapat dari kementerian perdagangan yang langsung dihadiri dengan Pak Menteri, Enggartiasto Lukita. Bahasannya seputar fungsi marketplace dalam menyerap produk lokal.

 

Di 2018 Kementerian Perindustrian sempat memaparkan bahwa serapan produk lokal di e-commerce Indonesia dibawah 10%. It means, dari sekian triliun transaksi di e-commerce (Shopee, Tokopedia, Lazada and the gank) tidak begitu mendongkrak perekonomian lokal atau khususnya UMKM Indonesia. Kok Bisa?? Salah satunya penyebabnya adalah cross border e-commerce aliasa perdagang digital lintas batas. Kalo kalian belanja di marketplace kemudian ada tulisan “barang di kirim dari luar negeri” nah itu.

 

Kebanyakan barang-barang tersebut adalah barang pabrikan China yang diproduksi secara massive sehingga bisa dijual secara murah kemudian masuk ke Indonesia, difasilitasi gratis ongkir. Sekarang gue mau bahas kenapa ini bisa membunuh UMKM Indonesia.

 

  1. Banyak Barang Plagiat

Salah satu konsekuensi masuk ke pasar digital adalah barang unik tanpa hak cipta atau perlindungan karya, bisa ditiru begitu saja. Dengan canggihnya data analisis, bisa dilihat barang apa saja yang paling diminati dan dengan mudahnya ditiru tanpa perlindungan. Ga usah jauh-jauh, merchandise band lokal juga banyak plagiat.

 

  1. Kapasitas Produksi

UMKM udah bisa diukur kapasitas produksinya, rata-rata mempekerjakan community sekitar, dihitung kecepatan tangannya. Dengan model yang dijual di marketplace design awalnya bisa ditiru, kemudian dibikin di luar sana dengan sistem pabrik. Mereka bisa cetak ribuan dalam semalam, di Indonesia cuma bisa kerjain ratusan atau mungkin puluhan doang.

 

  1. Logistik

Ini another problem, berhubung kita negara kepulauan dengan infrastruktur logistik yang tertinggal jauh dengan China yang jumlah bandaranya tahun lalu mencapai 235 bandara. Dengan bentuk kepulauan seharusnya pelabuhan menjadi kunci untuk logistik kita. Di sisi lain, ga semua bahan baku bisa kita dapatkan di Indonesia. Mirisnya, bahan mentahnya banyak di Indonesia, tapi harus diolah di luar negeri untuk kita beli lagi jadi bahan baku. Coba bayangin, berapa kali lipat biaya produksi yang harus dikeluarkan para UMKM yang mau menghasilkan barang dengan bahan baku terbaik? Melihat proses dari bahan mentah - bahan baku - hingga barang jadi yang sangat mempengaruhi angka.

 

  1. Harga Menjadi Tidak Bisa Bersaing

Suka gasuka pasar Indonesia ini masih price sensitive, cenderung cari harga lebih murah. Kalo ditawarin barang sama, apalagi barang-barang non primer, harga jauh lebih murah, cuma nunggu paling se-minggu, orang akan lebih pilih membeli barang pabrikan China. Plus difasilitasi gratis ongkir.

 

Udah kegambar ya kita kalah telak dan dibilang Shopee membunuh UMKM that’s the ugly truth. Pasar ga bisa disalahkan. Yang ada harusnya rasa tanggung jawab dalam berbisnis serta regulasi yang seharusnya melindungi barang produksi dalam negeri.

 

Pelaku marketplace yang memberlakukan cross border harusnya lebih bertanggung jawab dalam implementasinya di negara dia berbisnis, bukan hanya memikirkan kenaikan transaksi di platformnya. Diluar dari Ku Ka, sampai sekarang gue sebisa mungkin pakai Tokopedia daripada Shopee karena pernah terlibat dalam diskusi di ruang meeting Kementerian Perdagangan.

 

Pemerintah juga seharusnya peka, cross border juga bisa menguntungkan produk Indonesia, ASALKAN regulasi diperlonggar untuk UMKM yang akan mencari pasar di negeri orang. Pada kenyataannya, negara-negara lain punya proteksi lebih kuat untuk produk-produk negaranya, limitasi masuknya produk asing salah satunya, taukan sekeras apa pemerintah China terhadap penggunaan produk yang sudah dibuat oleh negaranya sendiri, ampe aplikasi aja harus pakai buatan sendiri. Kemudian, sebagai negara yang selalu dijadikan objek pasar, kita ga ada edukasi cukup mengenai strategi pasar luar negeri, kebanyakan pelaku UMKM mencari jalan sendiri. Plus sebaiknya dibantu pemasaran yang mudah dan seluas-luasnya di negara-negara lain, lewat kedutaan misalnya. Itu juga yang akhirnya Ku Ka lakukan (mengurasi produk-produk yang layak dibawa pameran di Luar Negeri). Intinya sih, jangan lembek-lembek amat sama produk dari negara orang dan agungkan produk negara sendiri.

Baca Artikel Lain



Gaya Hidup  06 Mei 2021

Pandemi Percepat Penerapan Smart City di Indonesia

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka



Bisnis Lokal  27 April 2021

Indonesia Jadi Produsen Biodiesel Terbesar Dunia

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka


Artikel Terbaru