Bisnis Lokal  29 Juli 2020, 15:05

Survey LIPI: Penjualan UMKM Turun Akibat COVID-19

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

Survey LIPI: Penjualan UMKM Turun Akibat COVID-19

Dalam empat bulan terakhir pandemi Covid-19 telah berdampak pada banyak sektor, tak terkecuali sektor bisnis, termasuk industri UMKM di Indonesia. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi sektor paling rentan kena hantaman pandemi virus Corona. UMKM menjadi tak lagi tangguh sebagai penopang perekonomian bangsa karena perubahan pangsa pasar yang dimilikinya, berupa kebutuhan masyarakat sehari-hari, baik sandang maupun pangan yang semakin menyempit. Sektor ini disebut ekonom tak bisa lagi menjadi penyangga perekonomian seperti saat krisis ekonomi dan keuangan 1998 dan 2008. Berkaca pada krisis moneter di tahun 1998 dan adanya krisis keuangan global 2008, banyak perusahaan-perusahaan skala besar yang tumbang, sebaliknya sektor UMKM tampil sebagai penyelamat dan penopang perekonomian nasional. Ketangguhan UMKM menjadi modal utama, membawa perekonomian nasional selamat dari krisis dan perlahan tapi pasti perekonomian kita dapat pulih kembali. UMKM saat itu mampu menggerakkan ekonomi akar rumput dan menjaga daya beli masyarakat. 

 

Kekhawatiran krisis ekonomi akibat pelemahan ekonomi global sebagai imbas pandemi Covid-19 menjadi ancaman besar bagi kelangsungan perekonomian nasional. Hasil simulasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) per Maret 2020 memproyeksi pertumbuhan ekonomi nasional hanya sebesar 1,9 -2,2 persen. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang terpuruk  akibat pandemi ini. Untuk mengetahui dampak pandemi terhadap kinerja UMKM, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui  Pusat Penelitian Ekonomi telah melakukan survei on-line pada bulan Mei lalu yang hasilnya disampaikan pada webinar “Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Kinerja UMKM: Mitigasi dan Pemulihan”, Senin, 29 Juni 2020 melalui live streaming Youtube. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan Survei Kajian Cepat Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Kinerja Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dilaksanakan  pada 1 – 20 Mei 2020. Data survei menunjukkan bahwa selama pandemi  94,69% UMKM mengalami penurunan penjualan. Survei dilaksanakan secara daring pada 1 – 20 Mei 2020, dan melibatkan 679 valid responden dengan mata pencaharian utama sebagai pelaku usaha.

 

Temuan Survei

Survei Kajian Cepat Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Kinerja UMKM Indonesia dilaksanakan secara daring pada 1 – 20 Mei 2020, dan melibatkan 679 valid responden dengan mata pencaharian utama sebagai pelaku usaha.

Survei ini menjaring responden pelaku usaha mikro 54,98%, ultra-mikro 33,02%, pelaku usaha kecil 8,1% dan pelaku usaha menengah 3.89%; dengan lama usaha 0-5 tahun (55,2%), 6-10 tahun (24%) dan lebih dari 10 tahun (20,8%). Sebagian besar usaha yang berusia 0-5 tahun berada dalam skala ultra-mikro (58,36%) dan skala mikro (58,33%). Selain itu, terdapat variasi metode penjualan yang dilakukan pelaku usaha, yaitu door-to-door 41%, toko fisik 34%, melalui agen/reseller 32% ,melalui market place 15%, serta penjualan secara online melalui media sosial 54%.

Data survei menunjukkan bahwa selama pandemi, 94,69% usaha mengalami penurunan penjualan. Berdasarkan skala usaha, penurunan penjualan lebih dari 75% dialami oleh 49,01% usaha ultra-mikro, 43,3% usaha mikro, 40% usaha kecil, dan 45,83% usaha menengah. Berdasarkan lama usaha, penurunan penjualan lebih dari 75% dialami oleh 23,27% usaha berusia 0-5 tahun, 10,9% usaha berusia 6-10 tahun dan 8,84% usaha yang telah berjalan lebih dari 10 tahun. Berdasarkan metode penjualan, penurunan penjualan lebih dari 75% dialami oleh 47,44% usaha penjualan offline/fisik, 40,17% usaha penjualan online, dan 39,41% usaha dengan metode penjualan offline sekaligus online.

Pandemi Covid-19 menyebabkan profit usaha menurun secara signifikan akibat biaya produksi tetap atau bahkan meningkat sementara penjualan menurun. Biaya usaha yang mengalami peningkatan selama pandemi yaitu bahan baku, transportasi, tenaga kerja, dan biaya lain-lain.

Survei juga megumpulkan persepsi pelaku usaha terkait kerentanan UMKM tutup usaha jika pandemi tidak segera berakhir. Sebanyak 47.13% usaha hanya mampu bertahan hingga Agustus 2020, 72,02% usaha akan tutup setelah November 2020, dan 85,42% usaha dapat bertahan paling lama dalam rentang waktu satu tahun sejak pandemi. Ada beberapa preferensi strategi yang dilakukan UMKM, antara lain mencari pasar baru, mencari pemasok bahan baku yang lebih murah, mengurangi tenaga kerja, dan memohon penundaan pembayaran.

Ilustrasi grafik: ANTARA 2020

 

Sumber:

 

https://papua.antaranews.com/nasional/berita/1584914/survei-lipi-penjualan-umkm-turun-akibat-covid-19?utm_source=antaranews&utm_medium=nasional&utm_campaign=antaranews
http://lipi.go.id/berita/survei-kinerja-umkm-di-masa-pandemi-covid19/22071
http://lipi.go.id/siaranpress/Diagnosis-Ekonomi-Nasional-Terhadap-Kinerja-UMKM-di-Pandemi-COVID-19/22069
 

 

Baca Artikel Lain

PSBB Babak 2

Kabar Terkini  23 September 2020, 12:37

PSBB Babak 2

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

Pada generasi ini, kita telah menghadapi banyak tantangan. Tantangan-tantangan ini berbeda-beda dan harus kita hadapi dalam berbagai bentuk. Dari perang dunia hingga gejolak ekonomi, dan terjadinya Read more...

Wah, Ku Ka Berubahhhhhhhhh!

62 Pride  23 September 2020, 09:12

Wah, Ku Ka Berubahhhhhhhhh!

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

Hi Lokalovers! Ada yang ‘ngeh’ dengan tampilan di laman Ku Ka gak nih? Sekarang kok jadi banyak fitur artikelnya ya? Kemana kah Ku Ka? Mau berubah jadi apa sih? Masih jualan produk lokal?   Read more...

Wisata Berkelanjutan di Labuan Bajo

62 Pride  22 September 2020, 09:49

Wisata Berkelanjutan di Labuan Bajo

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

Labuan Bajo merupakan kawasan yang berlokasi di Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Tak begitu jauh dari Bali, Labuan Bajo semakin diminati dan Read more...

Kolaborasi Sepatu Merek Lokal dengan Pewarna Alami dari Daun Teh
Ramengvrl Gabung dengan Label Rekaman Amerika Serikat

Bisnis Lokal  29 Juli 2020, 15:05

Survey LIPI: Penjualan UMKM Turun Akibat COVID-19

Penulis : Ku Ka
Editor    : Ku Ka

Survey LIPI: Penjualan UMKM Turun Akibat COVID-19

Dalam empat bulan terakhir pandemi Covid-19 telah berdampak pada banyak sektor, tak terkecuali sektor bisnis, termasuk industri UMKM di Indonesia. Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi sektor paling rentan kena hantaman pandemi virus Corona. UMKM menjadi tak lagi tangguh sebagai penopang perekonomian bangsa karena perubahan pangsa pasar yang dimilikinya, berupa kebutuhan masyarakat sehari-hari, baik sandang maupun pangan yang semakin menyempit. Sektor ini disebut ekonom tak bisa lagi menjadi penyangga perekonomian seperti saat krisis ekonomi dan keuangan 1998 dan 2008. Berkaca pada krisis moneter di tahun 1998 dan adanya krisis keuangan global 2008, banyak perusahaan-perusahaan skala besar yang tumbang, sebaliknya sektor UMKM tampil sebagai penyelamat dan penopang perekonomian nasional. Ketangguhan UMKM menjadi modal utama, membawa perekonomian nasional selamat dari krisis dan perlahan tapi pasti perekonomian kita dapat pulih kembali. UMKM saat itu mampu menggerakkan ekonomi akar rumput dan menjaga daya beli masyarakat. 

 

Kekhawatiran krisis ekonomi akibat pelemahan ekonomi global sebagai imbas pandemi Covid-19 menjadi ancaman besar bagi kelangsungan perekonomian nasional. Hasil simulasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) per Maret 2020 memproyeksi pertumbuhan ekonomi nasional hanya sebesar 1,9 -2,2 persen. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi salah satu sektor yang terpuruk  akibat pandemi ini. Untuk mengetahui dampak pandemi terhadap kinerja UMKM, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui  Pusat Penelitian Ekonomi telah melakukan survei on-line pada bulan Mei lalu yang hasilnya disampaikan pada webinar “Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Kinerja UMKM: Mitigasi dan Pemulihan”, Senin, 29 Juni 2020 melalui live streaming Youtube. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melakukan Survei Kajian Cepat Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Kinerja Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dilaksanakan  pada 1 – 20 Mei 2020. Data survei menunjukkan bahwa selama pandemi  94,69% UMKM mengalami penurunan penjualan. Survei dilaksanakan secara daring pada 1 – 20 Mei 2020, dan melibatkan 679 valid responden dengan mata pencaharian utama sebagai pelaku usaha.

 

Temuan Survei

Survei Kajian Cepat Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Kinerja UMKM Indonesia dilaksanakan secara daring pada 1 – 20 Mei 2020, dan melibatkan 679 valid responden dengan mata pencaharian utama sebagai pelaku usaha.

Survei ini menjaring responden pelaku usaha mikro 54,98%, ultra-mikro 33,02%, pelaku usaha kecil 8,1% dan pelaku usaha menengah 3.89%; dengan lama usaha 0-5 tahun (55,2%), 6-10 tahun (24%) dan lebih dari 10 tahun (20,8%). Sebagian besar usaha yang berusia 0-5 tahun berada dalam skala ultra-mikro (58,36%) dan skala mikro (58,33%). Selain itu, terdapat variasi metode penjualan yang dilakukan pelaku usaha, yaitu door-to-door 41%, toko fisik 34%, melalui agen/reseller 32% ,melalui market place 15%, serta penjualan secara online melalui media sosial 54%.

Data survei menunjukkan bahwa selama pandemi, 94,69% usaha mengalami penurunan penjualan. Berdasarkan skala usaha, penurunan penjualan lebih dari 75% dialami oleh 49,01% usaha ultra-mikro, 43,3% usaha mikro, 40% usaha kecil, dan 45,83% usaha menengah. Berdasarkan lama usaha, penurunan penjualan lebih dari 75% dialami oleh 23,27% usaha berusia 0-5 tahun, 10,9% usaha berusia 6-10 tahun dan 8,84% usaha yang telah berjalan lebih dari 10 tahun. Berdasarkan metode penjualan, penurunan penjualan lebih dari 75% dialami oleh 47,44% usaha penjualan offline/fisik, 40,17% usaha penjualan online, dan 39,41% usaha dengan metode penjualan offline sekaligus online.

Pandemi Covid-19 menyebabkan profit usaha menurun secara signifikan akibat biaya produksi tetap atau bahkan meningkat sementara penjualan menurun. Biaya usaha yang mengalami peningkatan selama pandemi yaitu bahan baku, transportasi, tenaga kerja, dan biaya lain-lain.

Survei juga megumpulkan persepsi pelaku usaha terkait kerentanan UMKM tutup usaha jika pandemi tidak segera berakhir. Sebanyak 47.13% usaha hanya mampu bertahan hingga Agustus 2020, 72,02% usaha akan tutup setelah November 2020, dan 85,42% usaha dapat bertahan paling lama dalam rentang waktu satu tahun sejak pandemi. Ada beberapa preferensi strategi yang dilakukan UMKM, antara lain mencari pasar baru, mencari pemasok bahan baku yang lebih murah, mengurangi tenaga kerja, dan memohon penundaan pembayaran.

Ilustrasi grafik: ANTARA 2020

 

Sumber:

 

https://papua.antaranews.com/nasional/berita/1584914/survei-lipi-penjualan-umkm-turun-akibat-covid-19?utm_source=antaranews&utm_medium=nasional&utm_campaign=antaranews
http://lipi.go.id/berita/survei-kinerja-umkm-di-masa-pandemi-covid19/22071
http://lipi.go.id/siaranpress/Diagnosis-Ekonomi-Nasional-Terhadap-Kinerja-UMKM-di-Pandemi-COVID-19/22069
 

 

Baca Artikel Lain

Kabar Terkini  23 September 2020

PSBB Babak 2

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka


62 Pride  23 September 2020

Wah, Ku Ka Berubahhhhhhhhh!

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka


62 Pride  22 September 2020

Wisata Berkelanjutan di Labuan Bajo

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka



62 Pride  21 September 2020

Ramengvrl Gabung dengan Label Rekaman Amerika Serikat

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka


Artikel Terbaru

Kabar Terkini  23 September 2020

PSBB Babak 2

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka

62 Pride  23 September 2020

Wah, Ku Ka Berubahhhhhhhhh!

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka

62 Pride  22 September 2020

Wisata Berkelanjutan di Labuan Bajo

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka

62 Pride  21 September 2020

Ramengvrl Gabung dengan Label Rekaman Amerika Serikat

Penulis: Ku Ka
Editor   : Ku Ka